Menjadikan karet sebagai salah satu komoditas unggulan, upaya pengembangan perkebunan karet rakyat terus dipacu, bantuanpun terus digulirkan setiap tahun oleh Pemerintah Kabupaten Sintang, kelompok tani baru pun bermunculan, namun sangat diharapkan bantuan tersebut bisa tersalurkan merata. <p style="text-align: justify;">Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sintang, Yulius mengatakan selama ini upaya yang dilakukan eksekutif untuk memacu produktivitas karet di Sintang sudah cukup maksimal.<br /><br />“Artinya konsentrasi pengembangan komoditi tanaman perkebunan rakyat sudah terfokus, sehingga bantuan yang digulirkan bisa menjadi perangsang bagi petani untuk menambah luas areal, apalagi jika berkaca pada harga jual karet yang lumayan tinggi,” ucapnya.<br /><br />Politisi Barisan Nasional asal Kecamatan Dedai ini mengatakan lantaran intensifnya upaya pengembangan sehingga terbentuk kelompok tani baru, menjadi kurang terpantau sehingga kelompok tani yang dibentu baru itu tidak mendapatkan bantuan.<br /><br />“Padahal sebenarnya mereka sangat membutuhkan dukungan tersebut untuk mengembangkan tanaman karet diwilayahnya,” kata dia.<br /><br />Yang terjadi kemudian, ada sejumlah kelompok tani yang hampir setiap tahun mendapatkan bantuan dari pemerintah padahal kelompok tersebut sudah lama beraktivitas dan kebun karet juga sudah terbangun.<br /><br />“Akhirnya bibit bantuan tidak tertanam, padahal kalau bibit tersebut ditanam oleh mereka yang membutuhkan tentunya luasan kebun karet akan semakin bertambah,” tukasnya.<br /><br />Ia mencontohkan di Desa Ransi Panjang dimana ada kelompok yang sudah beberapa kali mendapatkan bantuan, sementara ada juga kelompok yang dibentuk masyarakat belum pernah dapat bantuan sama sekali.<br /><br />Terkait bantuan yang telah disalurkan, ia sangat berharap tim dari dinas Kehutanan dan Perkebunan bisa rutin memantau kegiatan kelompok tani yang mendapatkan bantuan.<br /><br />“Lihat apakah bibit sudah ditanam, bagaimana pertumbuhan tanamannya, sehingga realisasi dari bantuan yang telah diberikan menjadi jelas, jadi menghitung realisasi bukan saat bantuan diberikan, tetapi ketika tanaman sudah tumbuh baik,” ucapnya.<br /><br />Ia juga meminta pihak kecamatan selektif melihat permohonan bantuan kelompok tani, jangan menerima bulat-bulat apa yang disampaikan oleh kepala desa.<br /><br />“Persoalan di desa beragam, bisa saja ketika ada masalah dengan salah satu kelompok tani maka kelompok tani itu tidak direkomendasikan oleh pihak terkait untuk memperoleh bantuan, makanya menelusuri informasi langsung sampai ke lapangan dan bertemu dengan kelompok tani itu perlu dilakukan agar diperoleh gambaran yang riil seberapa layak sebuah kelompok mendapatkan bantuan,” imbuhnya. <strong>(phs)</strong></p>















