Ditengah Gencarnya Himbauan Hidup Bersih, Kota Ng. Mau Belum Miliki TPA Sampah

oleh

Indikator semakin besar dan majunya sebuah kota, selain masalah urban adalah masalah sampah. <p>Bahkan, kedua hal tersebut disebut-sebut juga sebagai problem internasional. Di Indonesia, meskipun tidak ada Kementerian Persampahan, hampir diseluruh kota baik di kota-kota yang mulai tumbuh maupun di kota-kota besar, sampah selalu menjadi problem besar. Dan tidak habis-habisnya pemerintah setempat berperang melawan sampah.<br /><br />Problem sampah di Kabupaten Sintang, bukan hanya di Ibukota Kabupaten. Di kota Nanga Mau yang merupakan Ibukota Kecamatan Kayan Hilir pun, sampah telah menjadi sebuah problema yang cukup meresahkan. Ditengah gencarnya himbauan Bupati Sintang tentang Budaya Hidup Bersih, kota ini belum memiliki tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. <br /><br />Menurut seorang warga Desa Nanga Mau, Oktavianus Bontot (39) yang sempat ditemui kalimantan-news hari Selasa (11/6/2013), saat ini sampah kota Nanga Mau jika tidak dibuang di sungai oleh warga, petugas kebersihan setempat membuang sampah kota di belakang kantor Desa Nanga Mau. “Sampah diangkut dan dibuang ke lebak yang berada di belakang Kantor Desa Nanga Mau. Kondisi ini, disamping tidak sedap dipandang mata juga dapat menyebarkan penyakit” kata Bontot.<br /><br />Camat Kayan Hilir, M. Napiah yang juga sempat dihubungi untuk dikonfirmasi, hanya menjelaskan bahwa lahan untuk TPA telah tersedia sejak dirinya belum menjadi camat disana. Persoalannya, jalan masuk ke lokasi TPA tersebut belum dibangun, sehingga tidak dapat difungsikan, ungkapnya. Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemadam Kebakaran (DKPPK) Kabupaten Sintang sudah menempatkan 4 orang petugasnya di nanga Mau. Para petugas tersebut, berada dibawah DKPPK namun dibawah koordinasi Kantor Camat. ucap Napiah.<br /><br />Sementara itu, Plt. Kepala DKPPK, Budi Harto ketika dikonfirmasi, menjelaskan. Bahwa dirinya baru mengetahui bahwa sudah ada lahan untuk TPA dari Kepala Desa Nanga Mau baru-baru ini. Dalam waktu dekat, keberadaan lahan ini akan ditelusuri letaknya dimana, luasnya berapa, dan berapa jarak dari jalan raya serta bagimana status tanahnya. Ini penting karena sebagai sebagai laporan dan perencanaan pembangunannya kedepan,” ucap Budi Harto.<br /><br />Sayang, hingga berita ini diturunkan Kepala Desa Nanga Mau, Ayub, ketika dihubungi untuk dikonfirmasi teleponnya tidak dapat dihubungi. <strong>(das/Luc)</strong></p>