Duduk Bersama Bicarakan Persoalan Bangsa

oleh
oleh

Berbagai persoalan tengah mendera bangsa ini dari ancaman disietegrasi, radikalisasi, peredaran narkotika hingga persoalan pendidikan yang masih dirasakan kurang dalam memberikan pemahaman budi pekerti kepada peserta didik. <p style="text-align: justify;">Forum Peduli Ibu Pertiwi Kalbar bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sintang dengan difasilitasi Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat menggelar diskusi untuk mengkaji sejumlah persoalan lokal yang ada di Sintang, Jumat (29/7) di Kafe Dinza.<br /><br />Dalam kesempatan itu, Kepada Badan Kesabangpol dan Linmas Kabupaten Sintang, Lindra Azmar mengatakan dalam pertemuan yang dilaksanakan beberapa waktu lalu di provinsi bersama unsur Forkompinda, salah satu persoalan sosial yang mendapatkan perhatian saat ini adalah soal pemenuhan kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM).<br /><br />“Ini sudah menjadi persoalan bukan hanya di Sintang, tetapi daerah lainnya di Kalbar,” ujarnya.<br /><br />Selain itu kata dia yang juag tidak luput dari perhatian adalah soal keberadaan aliran keagamaan yang selama ini mengundang keresahan di beberapa wilayah di luar Kalbar, termasuk radikalisme hingga masalah lalu lintas.<br /><br />“Banyak hal yang dibahas, intinya persoala nasional kita coba tarik pada konteks persoalan di Kalbar dan  persoalan lokal inilah yang mesti kita bicarakan dengan duduk bersama untuk mencari solusi antisipasi dan penanggulangannya,” ujarnya.<br /><br />Ketua FKUB Kabupaten Sintang, Niam Husni mengatakan bicara soal aliran keagamaan, sejauh ini untuk di Sintang meskipun ada kelompok Ahmadiyah, namun belum menjadi sumber keresahan.<br /><br />“Kita masih mengedepankan toleransi dan ini adalah bagian dari upaya kita menjaga kerukunan di Kabupaten Sintang,” imbuhnya.<br /><br />Ketua Forum Peduli Ibu Pertiwi Kalbar, Tarwo mengatakan lembaganya dibentuk untuk mengkaji berbagai hal dalam kerangka menegakkan lima pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhineka Tunggal Ika dan Bendera Merah Putih.<br /><br />“Kami tidak peduli siapa yang memimpin negeri ini, kami ingin lima pilar ini tetap dipertahankan dan kami berkomitmen untuk menegakkannya,,” kata dia.<br /><br />Menurutnya, banyak hal yang telah dilakukan dalam konteks menjalankan komitemen lembaga diantaranya melaksanakan sejumlah pertemuan dengan FKUB yang ada di beberapa Kabupaten, selain itu juga melaksanakan kegiatan seminar untuk membicakan soal deradikalisasi.<br /><br />“Di perbatasan kami juga konsen untuk mendukung peningkatan wawasan kebangsaan,” ucapnya.<br /><br />Menurutnyam hasil kajian dari lembaganya, potensi terorisme di Kalbar sampai saat ini belum ada, tetapi bukan berarti harus lengah.<br /><br />“Mengingat daerah kita ini berbatasan langsung dengan negara tetangga dan mobilitas dipermudah dengan akses darat dan laut,” kata dia.<br /><br />Selain itu menurutnya, peran serta dari semua pihak sangat dibutuhkan untuk menangkal gerakan terorisme dan radikalisme.<br /><br />“Kita perlu tingkatkan kiewaspadaan untuk tangani ini degan libatkan seluruh masyarakat dan tentunya ormas maupun organisasi keagamaan dapat membantu melakukan pendidikan deradikalisasi,” ucapnya.<br /><br />Salah satu cara yang idel diterapkan kata dia adalah dengan sosialisasi persuasif dan terus menerus bersama berbagai komponen masyarakat dan membuat regulasi yang bisa menekan radikalisme tumbuh.<br /><br />“Bicara ancaman negara, beda jauh dengan dahulu dimana ancamannya simetrik, artinya kita berhadapan dengan negara lain yang sedikit banyak bisa dihitung kekuatannya, namun saat ini ancaman kita asimetrik, ancaman justruk berada dari dalam,” tukasnya.<br /><br />Ia mencontohkan peredaran merkuri ilegal di Kalbar menjadi ancaman bagi air yang digunakan masyarakat, peredaran narkotika dikalangan masyarakat, maupun masuknya gula ilegal dari negara tetangga yang belum tentu memenuhi standar layak konsumsi.<br /><br />“Ini ancaman bagi kita dan perlu penanganan segera, jangan sampai ibarat kata orang belum diperangi nanti kita sudah kalah, artinya perlu kebersamaan semua pihak untuk berbuat bagi negara,” imbuhnya.<br /><br />Gusti Ardania, salahs eorang tokoh masyarakat Sintang memberikan penekanan kepada lemahnya budi pekerti yang ditunjukkan generasi muda terutama pelajar.<br /><br />“Semestinya pendidikan budi pekerti ini ditanamkan sejak dini agar nanti tumbuh generasi muda yang mengerti tatakrama dan memiliki karater ketimuran yang sangat mengedepankan budi pekerti,” ucapnya. <strong>(phs)</strong></p>