Gubernur Akan Lapor Presiden Soal Izin Menhut

oleh

Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak akan melaporkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berkunjung ke Balikpapan, Selasa (23/10), terkait belum turunnya izin dari Kementerian Kehutanan atas penggunaan sebagian lahan hutan Bukit Soeharto. <p style="text-align: justify;">Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kalimantan Timur Joko Setiono di Balikpapan, Senin, mengatakan, belum keluarnya izin Kemenhut atas permohonan penggunaan sebagian lahan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto untuk proyek jalan tol Balikpapan-Samarinda, merupakan salah satu hal yang akan dilaporkan Gubernur Kaltim.<br /><br />Menurut dia, Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli Hasan sendiri sebenarnya sudah menegaskan bahwa permohonan izin itu sudah ada di meja Menhut.<br /><br />Rekomendasi Tim Terpadu yang dibentuk Menhut sendiri juga sudah menyampaikan pendapat dan saran-sarannya tentang bagaimana rute, dalam hal ini titik koordinat jalan tersebut saat melewati Tahura.<br /><br />Proses berikutnya adalah permintaan dari Kementerian Kehutanan untuk sidang dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI untuk membahas hal tersebut.<br /><br />"Bahkan Komisi IV sendiri sudah melihat lokasi dan kondisi di lapangan," kata Joko Setiono.<br /><br />Kondisi di lapangan tersebut antara lain sesungguhnya sudah sejak lama tidak ada lagi tegakan hutan di bagian yang direncanakan dilalui jalan tol.<br /><br />Pada bagian itu yang ada hanyalah padang alang-alang atau lahan kritis yang kerap terbakar di musim kemarau.<br /><br />Hutan primer atau hutan hujan tropis dari Tahura yang benar-benar terjaga hanya ada di perbatasan lahannya dengan konsesi PT Inhutani, bahkan juga dengan konsesi tambang batubara milik PT Singlurus, dengan Teluk Balikpapan dan PT ITCI Kenangan di bagian selatan, barat, dan utara.<br /><br />Hutan akasia yang teduh dan menaungi jalan Soekarno-Hatta sekarang, antara Km 50 hingga Km 74 Loa Janan adalah hasil reboisasi yang dilakukan militer di awal tahun 80-an. Lebarnya ke kiri dan ke kanan jalan itu pun paling jauh hanya 200 meter, kecuali di Km 50 hingga Km 63 yang bersambung dengan hutan sekunder hingga mencapai Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.<br /><br />Sebab belum ada izin alih fungsi sebagian kawasan tersebut, belum ada pengerjaan proyek tol di ruas Samboja-Palaran, Samarinda Seberang sepanjang lebih kurang 60 km.<br /><br />Ruas tol yang melewati Tahura sendiri hanya 22 km, yaitu dari sekitar km 50 Samboja, Kutai Kartanegara hingga km 74 Loa Janan. Tapi tol juga melewati kawasan Hutan Lindung Sungai Manggar sejauh 8 km sebelum memasuki Tahura.<br /><br />Rekomendasi Tim Terpadu, disebutkan oleh Joko Setiono, selain berusaha mengikuti prinsip-prinsip jalan tol, yaitu selurus mungkin untuk jarak terdekat, juga mempertimbangkan aspek kontur medan dan lingkungan.<br /><br />"Dengan lurus itu saja biaya pembangunannya mencapai Rp6,2 triliun. Karena itu bila jalan itu mengikuti batas tahura di sisi timur bukan tol lagi karena jalan menjadi lebih jauh, melingkar, dan biayanya pasti lebih mahal lagi. Selain itu juga ada pipa gas yang kita hindari," kata Joko.<br /><br />Joko juga menjelaskan, keberadaan jalan tol itu sangat dibutuhkan untuk koneksi antarkota, terutama pelabuhan-pelabuhan untuk kelancaran arus barang dan jasa sebagai salah satu syarat pertumbuhan ekonomi.<br /><br />Karena itu jalan tol tidak hanya hingga Samarinda, tapi terus sampai Maloy, Kutai Timur, lebih kurang 400 km utara Balikpapan di mana pelabuhan khusus ekspor minyak sawit tengah dibangun.<br /><br />Presiden SBY sendiri ke Balikpapan untuk meresmikan penggunaan Pelabuhan Peti Kemas Kariangau, selain melihat proyek perluasan Bandara Sepinggan, keduanya di Balikpapan, juga di Balikpapan meresmikan pabrik pupuk Kaltim V yang ada di Bontang.<br /><br />Di sisi lain, dalam beberapa kesempatan, alasan Kementerian Kehutanan, juga Dinas Kehutanan, sangat sederhana dan juga belajar dari pengalaman.<br /><br />Bila sudah ada jalan akses melintasi suatu kawasan, apalagi kawasan hutan, maka kelestarian hutan, juga satwa yang ada di situ segera terancam.<br /><br />Berikutnya, karena beragam alasan, segera muncul pemukiman dengan beragam pendukungnya. Apa yang terjadi pada Taman Nasional Kutai (TNK) diantara Bontang-Sangatta kerap dijadikan contoh.<br /><br />"Sering jaminan dari pemerintah bahwa tidak akan ada kerusakan atau degradasi lingkungan karena proyek yang melintasi kawasan lindung, tidak bisa dipegang," kata Kahar Al Bahri, dinamisator Jaringan Tambang (Jatam) Kaltim.<strong> (das/ant)</strong></p>