Gubernur : Aspebindo Bantu Awasi Pendistribusian BBM Bersubsidi

Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin berharap, Asosiasi Pemasok Energi dan Batu Bara Indonesia (ASPEBINDO) Kalimantan Selatan membantu mengawasi pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi agar tak dimanfaatkan bukan peruntukkannya. <p style="text-align: justify;">Menurut Gubernur, di Banjarmasin, Minggu, terbentuknya ASPEBINDO Kalimantan Selatan diharapkan mampu memberikan kontribusi besar bagi kemajuan daerah kaya tambang ini.<br /><br />"Kita ingin organisasi tersebut ikut mengawasi pendistribusian BBM bersubsidi yang selama ini diduga justru lari ke perkebunan dan pertambangan," katanya.<br /><br />Harapan yang sama juga disampaikan Wakil Ketua Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Fahmi H Matori usai pelantikan pengurus ASPEBINDO Kalimantan Selatan, Jumat.<br /><br />Menurut Fahmi pengurus ASPEBINDO memiliki kewenangan dan peran besar untuk membantu pemerintah dalam mengawasi pendistribusian BBM bersubsidi.<br /><br />"Saya rasa masih banyak BBM bersubsidi yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak berhak, terbukti masih banyak terlihat mobil-mobil yang melakukan pelangsiran di sepanjang SPBU yang saya lintasi dari Bandara Syamsudin Noor," katanya.<br /><br />Apalagi, kata dia, Kalimantan kini kembali mendapatkan tambahan kuota BBM 12 persen dari alokasi tambahan kuota yang digelontorkan pemerintah sebesar 4 juta kiloliter.<br /><br />Terkait keinginan Gubernur Kalsel agar disparitas harga BBM terutama solar dihilangkan Fahmi mengatakan hal tersebut sepenuhnya kewenangan pemerintah.<br /><br />Ketua ASPEBINDO Kalsel yang baru dilantik, Iwan Ramlan mengatakan, pihaknya akan segera melakukan rapat dengan seluruh anggotanya yang kini mencapai sekitar 30 perusahaan pertambangan.<br /><br />"Kita akan lakukan pengawasan terhadap pendistribusian BBM bersubsidi ini, jangan sampai dimanfaatkan transportasi pertambangan," katanya.<br /><br />Dalam beberapa pekan terakhir, ancaman kelangkaan bahan bakar minyak bersubsidi kembali terjadi akibat tingginya konsumsi sehingga membuat kuota BBM terancam habis pada Oktober atau November nanti.<br /><br />Pada 2012 kuota BBM bersubsidi ditetapkan sebesar 40,4 juta kl. Namun, hingga akhir Agustus lalu konsumsinya sudah menembus 29,32 juta kl. Dengan tren konsumsi yang terus merangkak naik, diperkirakan konsumsi hingga akhir tahun bakal menembus 44 juta kl, sehingga butuh tambahan 4 juta kl.<br /><br />Dari sisi alokasi anggaran, tahun ini pemerintah sudah mengalokasikan subsidi BBM sebesar Rp91,89 triliun. Dari jumlah tersebut, Premium menyedot subsidi terbesar dengan Rp51,69 triliun, lalu solar Rp32,31 triliun.<br /><br />Sisanya digunakan untuk subsidi minyak tanah, bahan bakar nabati (BBN), dan elpiji. Dengan tambahan Rp12 triliun yang akan digelontorkan pemerintah, maka total subsidi BBM tahun ini bakal menembus Rp103,89 triliun. <strong>(phs/Ant)</strong></p>