Harga Gas Bersubsidi Di Kalbar Rp28 Ribu/Tabung

oleh
oleh

Harga gas bersubsidi atau gas tabung tiga kilogram, sejak dua pekan terakhir di beberapa daerah Provinsi Kalimantan Barat mengalami kenaikan, bahkan di Desa Pipitteja, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas melambung hingga Rp28 ribu/tabung. <p style="text-align: justify;">"Harga gas tabung tiga kilogram saat ini sangat tinggi, bahkan mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp26 ribu/tabung kini menjadi Rp28 ribu/tabung," kata Mahdina salah seorang warga Desa Pipitteja, saat dihubungi di Sambas, Rabu.<br /><br />Akibatnya, menurut ibu dua anak tersebut, dia dan sejumlah warga di desanya melakukan pengiritan penggunaan gas untuk memasak, dengan menggunakan kayu untuk memasak yang membutuhkan waktu lama, seperti memasak air.<br /><br />"Kalau tidak melakukan pengiritan, maka biaya yang dibutukan untuk membeli gas menjadi naik juga," katanya.<br /><br />Sementara itu, ditempat terpisah Yuyun salah ibu rumah tangga di Ngabang, juga mengeluhkan, mahalnya harga gas bersubsidi yang dijual di Ngabang.<br /><br />"Sudahlah harga mahal dari sebelumnya, ukuran isi gasnya juga tidak penuh, hal itu bisa dilihat di meteran saat dipasang dengan selang," ungkapnya.<br /><br />Harga jual gas tabung tiga kilogram di Kota Ngabang saja, menurut dia Rp26 ribu/tabung. "Di Ngabang saja harganya tinggi, apalagi di desa-desa," ujarnya.<br /><br />Hal senada juga diakui oleh Alex salah seorang warga Mandor, Kabupaten Mempawah saat dihubungi Antara. Selain harga gas yang dijual oleh agen-agen dan pangkalan mahal, stoknya juga langka, katanya.<br /><br />"Saya dari Mandor membawa tabung gas tiga kilogram, untuk membeli gas, tetapi ketika tiba di agen dan pangkalan ternyata gasnya malah habis," ujarnya kesal.<br /><br />Dia berharap pemerintah atau aparat hukum menindak tegas para agen, pangkalan atau spekulan yang bermain sehingga banyak merugikan masyarakat kecil.<br /><br />"Pertamina juga harus menjelaskan, alasan kenapa harga gas bersubsidi sampai tinggi, dan stok gas bersubsidi juga sulit dicari atau langka," ujar Alex.<br /><br />Sementara itu, Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria menyatakan kelangkaan atau tingginya harga jual gas tabung tiga kilogram diduga kuat karena permainan para spekulan atau agen dan pemilik pangkalan.<br /><br />"Karena hingga saat ini stok gas bersubsidi atau gas tabung tiga kilogram menurut Pertamina cukup," ujarnya.<br /><br />Dia menduga perbedaan harga yang terlalu jauh antara gas bersubsidi dan gas non subsidi, dimanfaatkan oleh para spekulan untuk mencari keuntungan, sehingga terjadi kekurangan stok gas bersubsidi di beberapa daerah, seperti di Kalbar.<br /><br />Sofyano menambahkan aturan masyarakat pengguna gas bersubsidi atau gas tabung tiga kilogram harus jelas agar masyarakat yang menggunakannya memang yang berhak.<br /><br />"Beralihnya masyarakat pengguna gas non subsidi atau gas tabung 12 kilogram ke gas tabung tiga kilogram, bisa terjadi karena abu-abunya Peraturan Menteri ESDM No. 26/2009 tentang gas," ungkapnya.<br /><br />Sofyano menjelaskan Permen ESDM No. 26/2009 tidak tegas menyatakan siapa yang berhak gunakan gas subsidi tabung tiga kilogram dan tidak pula tegas menyatakan penggunaan gas bersubsidi itu hanya boleh untuk kegiatan apa?.<br /><br />Dengan ketentuan yang abu-abu tersebut, membuat siapa saja bisa membeli gas bersubsidi dalam jumlah yang "semaunya" pula.<br /><br />"Apalagi ketika ada petinggi di negeri yang mengeluarkan pernyataan terbuka ke publik bahwa ‘orang tidak mampu’ bisa gunakan gas bersubsidi, maka terbuka peluang orang mampu sekalipun akan ‘menganggap dirinya’ sebagai orang tidak mampu yang boleh membeli gas tabung tiga kilogram," ungkap Sofyano.<br /><br />Gubernur Kalbar sebelumnya telah menetapkan HET gas tabung tiga kilogram No. 563/Ekbang/2013 dan mulai berlaku dilaksanakan per 1 Januari 2014 dengan besaran HET Rp14.500/tabung gas tiga kilogram pada radius 60 kilometer. (das/ant)</p>