Harga ikan segar di pasar harian dan pasar subuh di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan sebulan terakhir melonjak menyusul terjadinya gelombang besar di perairan Kotabaru dan sekitarnya. <p style="text-align: justify;">Seorang ibu rumah tangga di Jalan Suryanganggawangsa Kotabaru, Sholikhah, Selasa mengatakan, sudah beberapa hari ini di kompleks pasar ikan yang biasa menjual ikan laut segar hasil tangkapan nelayan kini banyak yang menganggur dan kosong.<br /><br />"Hanya sebagian pedagang ikan yang masih berjualan hingga sore hari, sementara yang lain tidak berjualan karena ikan kosong, karena banyak nelayan tidak melaut," ujarnya.<br /><br />Akibat tidak banyak yang berjualan itu, menurut ibu dari empat orang anak itu, harga ikan di pasar subuh dan pasar Kemakmuran melonjak tajam.<br /><br />Dia mencontohkan, biasanya ikan laut segar jenis bawal sekitar Rp20.000 per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp35.000 per kilogram.<br /><br />Hampir semua jenis ikan sejak nelayan banyak yang tidak turun melaut harganya naik hingga beberapa persen.<br /><br />Dalam kondisi seperti itu, menurut sejumlah ibu rumah tangga, harga ikan jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga daging ayam ras.<br /><br />Padahal pada hari-hari biasa, harga ikan jauh lebih murah dibandingkan dengan harga ayam ras, atau satu kilogram daging ayam ras bisa membeli dua kilogram ikan segar.<br /><br />Menurut dia rumah tangga lainnya, harga daging ayam ras untuk ukuran sedang atau beranta sekitar 1-2 kilogram harganya kisaran Rp35.000 per ekor.<br /><br />Namun kali ini, harga ikan laut segar dalam satu kilogram bisa mendapatkan daging ayam ras 1,5 kilogram.<br /><br />Sementara itu, seorang warga Tanjung Smalantakan, Pamukan Selatan, Sugeng mengatakan, nelayan masih memilih beristirahat belum berani turun ke laut menangkap ikan, karena gelombang yang terjadi akhir-akhir ini kurang bersahabat.<br /><br />Bahkan mereka juga tidak berani menambatkan perahunya di pantai, karena gelombang tinggi yang menghantam bibir pantai tersebut dapat menyebabkan perahu rusak/pecah.<br /><br />Para nelayan terpaksa menambatkan perahu di sungai-sungai yang teduh dan tidak ada gelombangnya.<br /><br />Kendati tinggi gelombang di perairan yang biasa dikunjungi nelayan Kotabaru masih di bawah tiga meter, namun gelombang dan angin kencang yang tidak menentu tersebut cukup membahayakan bagi perahu tangkap nelayan tradisional.<br /><br />Sementara untuk menutupi biaya hidup sehari-hari karena tidak melaut, sebagian nelayan kini mulai mencari pekerjaan lain, seperti buruh bangunan di perumahan dan proyek-proyek pemerintah.<br /><br />Selain nelayan Pamukan Selatan yang belum berani melaut, sebagian nelayan di Pulau Sebuku, Pulau Sembilan dan beberapa daerah lainnya juga belum berani melaut.<br /><br />Abdullah warga Kelumpang Utara mengatakan nelayan di daerahnya juga masih belum berani melaut, akibat gelombang besar.<br /><br />Terlebih sejak terjadinya musibah PM Martasiah B II tenggelam di perairan Tanjung Dewa, Senin (6/6) dengan korban meninggal dunia 29 orang.<br /><br />Kapal pengangkut tandan buah segara kelapa sawit juga tenggelam di perairan Tanjung Dewa akibat gelombang besar, serta sebuah speedboat di Pudi pecah juga akibat gelombang tinggi.<br /><br />"Hal itu membuat nelayan semakin trauma," ujarnya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>














