Harga Karet Anjlok Petani Jadi Buruh Serabutan

oleh

Sejumlah petani karet di Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat terpaksa beralih kerja menjadi buruh "serabutan" akibat merosotnya harga karet hingga Rp5.000 per kilogram. <p style="text-align: justify;">"Sudah enam bulan terakhir harga karet anjlok dari sebelumnya Rp11.000 per kilogram. Terus merosot hingga menjadi Rp5.000 per kilogram. Sementara untuk membeli beras saja Rp12.000 per kilogram," kata Rahmani (55) salah seorang petani di Desa Serimbu Kecamatan Air Besar, di Ngabang, Rabu.<br /><br />Ia menjelaskan sejak harga karet terpuruk, penduduk di desa tersebut banyak mencari kerja lain untuk memenuhi kehidupan keluarganya.<br /><br />"Saya sekarang kerja serabutan (macam-macam) dengan upah harian Rp60.000 per hari. Warga juga ada kerja buruh perusahaan, dan buruh toko," ungkapnya.<br /><br />Masyarakat mengeluh dengan murahnya harga karet, sementara harga berbagai kebutuhan pokok semakin mahal, seperti beras, gula, termasuk harga bahan bakar minyak premium yang dijual di kios pengecer Rp10.000 per liter.<br /><br />"Kami berharap pemerintah memperhatikan nasib petani, terutama harga karet yang semakin anjlok sehingga sangat merugikan petani karet," ujarnya.<br /><br />Sementara itu, Kepala Desa Serimbu Mustari mengatakan, jumlah penduduk di desa tersebut sebanyak 2.137 jiwa dengan 512 kepala keluarga yang tersebar di empat dusun. Dari jumlah penduduk tersebut sekitar 75 persen bermata pencaharian karet.<br /><br />"Dengan harga karet murah berdampak besar bagi masyarakat. Kami berharap Presiden yang baru nanti lebih pro dan memikirkan nasib rakyat khususnya di daerah pedalaman," ujar Mustari.<br /><br />Menurut dia jika harga karet terus murah, dikhawatirkan akan berdampak sosial di masyarakat.<br /><br />"Jangan sampai lahan dan kebun masyarakat terpaksa dijual kepada perusahaan sawit akibat kebutuhan ekonomi masyarakat," ujarnya. <strong>(das/ant)</strong></p>