Harga Karet di Pedalaman Melawi Rp 3 Ribu Per Kilo

oleh

Meskipun di pusat Provinsi Kalimantan Barat kenaikan harga karet sudah dirasakan oleh para penampung karet, namun belum dirasakan oleh petani karet yang berada di pedalaman. Seperti desa-desa yang ada di pedalaman Kecamatan Nanga Pinoh Kabupaten Melawi. <p style="text-align: justify;">Seperti yang disampaikan Setot Supardi, seorang petani karet di Dusun Mulung Desa Semadin Lengkong.  Ia mengatakan dikampung halamannya, masih tetap Rp. 3000 per kilogram. Sehingga kesulitan masih sangat dirasakan para petani karet, terlebih dengan harga semabko yang semakin hari semakin naik.<br /><br />“Meskipun kita sudah mendengar didalam kota Nanga Pinoh harga karet sudah naik Rp. 4000 sampai 5000 perkiloramnya, namun di desa kami masih tetap segitu. Mungkin karena ongkos angkutnya yang juga mahal,” katanya saat ditemui di desanya, Selasa (29/3).<br /><br />Kesulitan semakin dirasakan warga ketika hama menghantam persawahan warga, yang mengakibatkan hasil produksinya sangat menurun. Sehingga tidak bisa diharapkan untuk mencukupi kebutuhan keluarga selama satu tahun, apalagi untuk dijual.<br /><br />“Jangankan dijual, untuk konsumsi sendiri aja tidak cukup. Sebab hasil produksinya sangat menurun. Biasanya kalau tidak terkena hama, hasil produksi sawah warga yang berukuran kurang lebih setengah haktar, mampu sampai 10 karung yang ukurannya 12 kilo. Namun saat ini hanya mampu dua karung saja,” terangnya.<br /><br />Terkait persoalan ekonomi masyarakat yang sangat melorot akibat harga karet belum naik dan gagal panen, belum ada perhatian pemerintah seperti melakukan pendataan atau hal lain. Begitu juga dengan pemerintah desa, belum ada melakukan pendataaan.<br /><br />“Mau tidak mau, kami harus bertahan dengan kondisi seperti ini. Ya, paling tidak ibaratnya, kalau pun belum bisa makan pakai lauk, makan dengan garam pun jadi. Pemerintah juga belum ada perhatian terhadap petani karet dan terjadinya gagal panen,” ujarnya.<br /><br />Sebelumnya, Dinsosnakertrans pernah mengatakan, bahwa pihaknya belum bisa berbuat banyak karena terkendala APBD yang belum cair. Hanya menginput laporan dari kecamatan terkait laporan peersoalan di desa yang disampaikan para Kepala Desa.<br /><br />Terkait ketersediaan logistik, Imansyah mengatakan, untuk logistic bantuan setiap tahunnya Pemrintah memiliki Cadangan Beras Pemrintah (CBP) di Bulog. <br /><br />“Setahun itu ada 100 ton. Ini belum ada kita ambil, persoalannya itu tadi karena APBD belum cair,” ucapnya. (KN)</p>