Hari Bumi Di Candi Berelief Kalpataru

oleh

Bunyi musik tradisional truntung ditabuh para penari jatilan terdengar dari jarak sekitar 300 meter barat Candi Pawon. Arak-arakan oleh sebagian peserta kegiatan budaya itu pun mulai. <p style="text-align: justify;">Masyarakat setempat terutama di Desa "Wisata" Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, berdiri di tepi kanan dan kiri jalan yang dilalui peserta kirab, sebagian besar lainnya berkumpul di depan Candi Pawon, tempat tujuan prosesi itu. Candi Pawon sekitar 1,5 kilometer timur Candi Borobudur.<br /><br />Langit berwarna biru memayungi Candi Pawon yang dinding-dinding luarnya bertahta relief kalpataru (pohon hayati) diapit pundi-pundi dan relief makhluk berkepala manusia namun berbadan burung yang disebut kinara-kinari. Kalpataru menjadi simbol tentang pelestarian lingkungan hidup di bumi.<br /><br />Suprapto, pemimpin Padepokan Lemah Putih Kabupaten Karanganyar, tampak mengenakan pakaian warna hitam, bertutup kepala iket, dan mengenakan kain batik, berjalan paling depan dalam prosesi tersebut.<br /><br />Di belakangnya berjalan kaki para laki-laki dan perempuan pembawa lima tandu yang masing-masing berhiaskan janur kuning dan berisi nasi tumpeng dengan aneka makanan, penabuh truntung, dan sebagian peserta kegiatan "Srawung Seni Segara Gunung" baik berasal dari sejumlah daerah di Indonesia maupun mancanegara, serta beberapa warga sekitar Candi Pawon.<br /><br />Halaman Candi Pawon telah terpasang properti yang semua terbuat dari bambu antara lain berupa pagar bambu di depan pintu masuk candi, penjor bambu, dan beberapa tempat duduk ukuran cukup pendek yang juga terbuat dari bambu.<br /><br />Mereka meletakkan lima tandu berisi tumpeng itu di atas tikar di bawah tangga batu candi. Puluhan warga setempat baik lelaki maupun perempuan duduk bersila dan timpuh, tak jauh dari tumpeng tersebut. Sebagian peserta prosesi lain duduk di bangku dari bambu di halaman depan candi tersebut.<br /><br />Seorang sesepuh warga Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo, Rochmat Mashuri (58), yang mengenakan baju lengan panjang warna merah, bersarung, dan peci warna hitam memotong tumpeng dan menyerahkan kepada seorang peserta "Srawung Seni Segara Gunung" berasal dari Polandia, Carolina dan Ketua Pengurus Yayasan Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono.<br /><br />Rochmat duduk bersila di depan lima tandu itu dengan didampingi Suprapto, lalu mengangkat kedua tangannya diikuti semua orang yang hadir di halaman bangunan bersejarah itu untuk memanjatkan doa memperingati Hari Bumi 2012.<br /><br />"Kami berdoa untuk memohon keselamatan warga di sini dan kelestarian lingkungan alam kami, juga kelestarian bumi kita ini," katanya, usai memimpin doa itu.<br /><br />Mereka yang menjalani peringatan itu kemudian menyantap bersama-sama nasi tumpeng dengan aneka sayuran dan lauk pauk tersebut.<br /><br />Duta Lingkungan Hidup yang juga penyanyi, Oppie Andaresta, pada peringatan Hari Bumi 2012 di Candi Pawon itu meluncurkan buku untuk anak-anak berjudul "Bumiku Lestari" dan album lagu-lagu tentang lingkungan hidup berjudul "Lagu untuk Bumi". Beberapa buku dan "compact disk" itu dibagikan kepada anak-anak setempat.<br /><br />Oppie sambil memetik gitarnya bersama puluhan anak-anak setempat melantunkan sejumlah tembang bertema lingkungan hidup di depan pintu halaman masuk candi itu.<br /><br />Sejumlah lagu yang mereka nyanyikan dengan suka ria itu antara lain berjudul "Hijau", "Reduce, Re-use, Recycle", "Surga Laut", dan "Tanam". Oppie juga membagikan sekitar 70 bibit pohon pepaya kepada anak-anak itu.<br /><br />Pada kesempatan itu juga, Nina Nurlina Pramono didaulat Suprapto untuk melepaskan sekitar 40 burung pipit di halaman candi itu yang agaknya sebagai simbol pesan terhadap penyelamatan bumi dari kerusakan.<br /><br />"Kesempatan peringatan Hari Bumi ini, selain untuk bersilaturahmi, kami berdoa untuk bumi, untuk keselamatan umat manusia," kata Suprapto.<br /><br />Ia mengharapkan, bencana alam yang beruntun akhir-akhir ini di berbagai daerah dan belahan dunia lainnya makin mendorong manusia untuk memantapkan kesadaran terhadap pentingnya penyelamatan bumi dari kerusakan.<br /><br />"Karena bencana alam itu salah satunya juga disebabkan ulah manusia yang membabat hutan, mengeksploitasi bumi secara semena-mena sehingga menghancurkan alam dan berdampak terhadap bencana kemanusiaan dan kebudayaan," katanya. <strong>(phs/Ant)<br /></strong></p>