Hatta Rajasa: Persatuan Kunci Kemajuan Bangsa

oleh

Ketau Umum DPP Partai AManat Nasional (PAN) Hatta Rajasa mengatakan bahwa kunci kemajuan Bangsa Indonesia adalah semangat persatuannya yang tinggi. <p style="text-align: justify;">"Energi dari rasa persatuan mampu memecahkan kebuntuan yang sulit dipecahkan," kata dia dalam acara halal bihalal di kediaman ketua Umum Partai Bintang Reformasi (PBR), Bursah Zarnubi, Jakarta, Sabtu.<br /><br />Bangsa Indonesia telah membuktikan rasa persatuan mampu menaklukkan kondisi yang sulit. Contohnya setelah era reformasi, banyak pengamat asing memprediksikan Indonesia tidak mungkin bertahan karena proses reformasi yang berlangsung serentak di berbagai bidang.<br /><br />Pendapatan perkapita penduduk yang kurang dari empat ribu dolar AS, membuat banyak pengamat memprediksi Indonesia akan pecah seperti Uni Soviet.<br /><br />"Tapi buktinya, dengan semangat persatuan, 13 tahun setelah reformasi, World Economy Forum menyatakan Indonesia berhasil menjadi "emerging economy country"," kata Hatta Rajasa yang juga Menko Perekomian itu.<br /><br />Namun, menurut Hatta Rajasa, Indonesia tidak boleh berpuas diri sampai di sini. Bangsa Indonesia harus mampu mendesain Indonesia baru yang berbasis pada empat pilar penting yaitu adaptasi, inovasi, evolusi, dan sumberdaya manusia.<br /><br />Indonesia harus siap beradaptasi terhadap perubahan, selalu berenovasi, serta berevolusi dalam mengatasi krisis, dan berusaha meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.<br /><br />"Untuk mewujudkan itu, tahun 2014 nanti, Indonesia tidak lagi boleh menjual bahan-bahan mentah ke luar negeri. Semuanya wajib diolah dulu," kata dia.<br /><br />Oleh karena itu, Hatta menekankan bahwa pembangunan Indonesia selanjutnya haruslah bersifat terpadu secara domestik dan terhubung secara internasional.<br /><br />"Salah satu bentuk nyata dari rasa persatuan bangsa Indonesia adalah acara silaturahmi," kata Hatta pada acara halal bihalal yang juga dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Sekjen PAN Taufik Kurniawan, Tokoh aktivis Hariman Siregar, pengamat politik Yudi Latif, dan anggota DPR RI Teguh Juwarno. <strong>(phs/Ant)</strong></p>