Hilal Tidak Terlihat Di Palangka Raya

oleh
oleh

Berdasarkan hasil pengamatan dan pemantauan terhadap rukyatul hilal sekitar pukul 17.00 WIB di lantai tertinggi Hotel Aquarius Palangka Raya, tidak terlihat adanya hilal, kata Pejabat sementara Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kalimantan Tengah, Riduan Syahrani. <p style="text-align: justify;">"Posisi hilal masih di bawah dua derajat sehingga bisa diperkirakan Lebaran jatuh pada Rabu," kata Riduan usai melakukan kegiatan tersebut, di Palangka Raya, Senin.<br /><br />Meski pun diakuinya, saat dilakukan rukyat, ada sedikit kendala karena kabut asap kebakaran lahan, akan tetapi tetap tidak berpengaruh kendati hari cerah, lantaran hilal berada di bawah dua derajat.<br /><br />Dari hasil pengamatan dan pantauan tersebut, langsung dilaporkan pihaknya ke Kementerian Agama pusat, sebagai dasar pertimbangan dalam sidang itsbat. Tujuan rukyatul hilal untuk memantapkan dan memberikan kepastian 1 Syawal 1432 Hijriyah.<br /><br />Kegiatan rukyatul hilal yang dilakukan 14 petugas baik dari Kantor Kementerian Agama Kalteng, Badan Hisab Rukyat, MUI Kalteng, Pengurus Wilayah NU Kalteng, Pengurus Wilayah Muhammadiyah Kalteng, Hakim Pengadilan Agama Palangka Raya, ahli hisab rukyat, Kasi Produk Halal, Kasi Kepenghuluan, kemitraan umat dan arsiparis bidang Urais.<br /><br />Ia juga mengimbau, kepada masyarakat yang merayakan Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriyah berbeda, agar tetap menjaga kerukunan dan persatuan serta menyikapinya secara bijak.<br /><br />Sebelumnya, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Tengah, Kiai Haji Ahmadi Isa, mengimbau agar masyarakat berlebaran sesuai yang ditetapkan pemerintah.<br /><br />"Kami menganjurkan kepada kaum muslimin ikut saja berhari raya sesuai dengan ketentuan dan kesepakatan pemerintah,"kata Ahmadi.<br /><br />Meski pun demikian, ia tetap meminta kepada umat Islam, jika ada yang merayakan Idul Fitri tidak sesuai ketetapan pemerintah, agar perbedaan tersebut dapat dijadikan sebagai rahmat bukan untuk mencederai kerukunan intern umat beragama.<br /><br />Ahmadi mengakui, memang para ulama sepakat mengatakan Hari Raya Idul Fitri jatuh pada 1 Syawal, hanya saja cara menentukan Syawal yang kadang-kadang berbeda.<br /><br />Ada yang berdasarkan ilmu pengetahuan dengan menggunakan ilmu hisab serta berdasarkan ilmu pengetahuan dan ru’yah yakni dengan langsung melihat bulan.<br /><br />Jadi dalam menentukan 1 Ramadhan ada dua cara yang dapat dilakukan, yakni dengan ru’yah atau melihat dan dengan hisab atau menghitung.<br /><br />Akan tetapi, ia tetap meminta dengan adanya perbedaan pelaksanaan Idul Fitri, lebih merekatkan ukhuwah Islamiyah antara pemeluk agama Islam. <strong>(das/ant)</strong></p>