Howkins: Ekonomi Kreatif Tak Perlu Modal Besar

oleh

Pakar ekonomi kreatif dari Inggris, John Howkins, mengatakan, bisnis ekonomi kreatif tidak memerlukan modal besar dan hal itu telah dibuktikan banyak kreator di dunia yang sukses berkat karya kreativitasnya. <p style="text-align: justify;">"Ekonomi kreatif tidak memerlukan modal besar. Banyak perusahaan menggunakan Facebook untuk memasarkan jasa dan produk mereka," kata Howkins yang dijuluki Bapak Ekonomi Kreatif Dunia itu di Jakarta, Jumat, dalam acara Panglaykim Memorial Dialog 2012 yang diadakan sebagai bagian dari Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2012.<br /><br />Bahkan, kata dia, ada perusahaan game yang memulai dari nol untuk mengembangkan usahanya melalui Facebook dan hanya dalam dua tahun nilai perusahaannya menjadi jutaan dolar.<br /><br />Penulis buku The Creative Economy itu menilai Indonesia telah mampu menyambut positif era ekonomi kreatif.<br /><br />John yang hadir di PPKI 2012 untuk membagikan pengalamannya kepada pelaku kreatif Indonesia, menyebutkan, berbagai hal yang ditampilkan selama PPKI adalah bukti bahwa Pemerintah Indonesia sudah menyadari pentingnya mengembangkan ekonomi kreatif.<br /><br />"Kesempatan bagi Indonesia untuk mengembangkan ekonomi kreatif terbuka lebar. Yang paling penting adalah mempunyai ide dan keahlian untuk memberikan nilai tambah," katanya.<br /><br />PPKI digelar di Epiwalk, Kuningan, Jakarta, pada 21-25 November 2012 atas kerja sama 17 instansi sebagai wadah bagi pelaku industri kreatif untuk mengekspresikan hasil karya kreatif sekaligus memperluas jejaring pasar mereka.<br /><br />Pada kesempatan itu Howkins menggarisbawahi, upaya mengembangkan kreativitas umumnya tidak memerlukan modal yang besar.<br /><br />"Yang terpenting adalah memahami proses rantai nilai (value chain). Dengan memahami rantai nilai, suatu ide kreatif bisa disampaikan ke calon investor," katanya.<br /><br />Umumnya, menurut dia, bila ide tersebut akan direalisasikan tidak bisa langsung dijual ke pasar tapi harus difasilitasi oleh pihak lain yang akan akan membantu mengenalkan dan memasarkan produk kreatif tersebut.<br /><br />Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Mari Elka Pangestu, menyatakan sepakat bahwa ekonomi kreatif adalah sebuah proses memberikan nilai tambah terhadap sesuatu yang sudah ada dan menjadikannya berkesinambungan.<br /><br />Mari Pangestu mencontohkan kain songket Palembang yang sekarang ini banyak dipadupadankan dengan batik.<br /><br />"Cara ini akan memopulerkan dan melestarikan keberadaan songket dan batik," katanya.<br /><br />Menanggapi hal itu, Howkins membagi pengalamannya saat di Afrika di mana daerah itu yang mengembangkan produk dengan teknik sederhana.<br /><br />"Untuk memberikan nilai tambah dilakukan pengembangan dari aspek desain, marketing, dan distribusi. Dengan cara ini keuntungan penjualan produk tersebut akan semakin meningkat," demikian John Howkins.<strong> (das/ant)</strong></p>