HSU Kembangkan Desain Kerajinan Purun Kualitas Ekspor

oleh

Pemerintah Kabupaten Hulu Sunga Utara Kalimantan Selatan mengembangkan kerajinan purun dengan motif dan kualitas kerajinan yang baik agar bisa menjadi produk kualitas ekspor. <p style="text-align: justify;">Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Hulu Sungai Utara Eulis Rohayati di Amuntai, Jumat mengatakan, potensi kerajinan purun di daerahnya cukup besar untuk bisa dikembangkan karena saat ini pasar kerajinan tumbuhan alang-alang ini, masih cukup luas.<br /><br />Pasar untuk berbagai produk kerajinan purun mulai dari tas, topi, tikar dan lainnya, tidak hanya di Kalsel saja, tetapi ke beberapa provinsi bahkan untuk ekspor.<br /><br />"Sayangnya, pasar yang cukup luas tersebut belum bisa dimanfaatkan oleh perajin secara maksimal, karena kualitas maupun desain produk yang itu-itu saja dan apa adanya," katanya.<br /><br />Selain itu, para perajin juga belum memiliki jiwa wira usaha yang tinggi, sehingga mereka menjual atau memproduksi kerajinan tersebut bila hanya ada pesanan, tidak berupaya untuk mendapatkan terobosan baru.<br /><br />"Jadi bisa diistilahkan selama ini perajin hanya berperan sebagai buruh atau pengambil upah, sehingga kerajinan purun dan rotan HSU belum menjadi produk yang bisa meningkatkan kesejahteraan perajin," katanya.<br /><br />Kesimpulan tersebut, diambil setelah Eulis melakukan wawancara dengan para perajin di Desa Palimbang Sari yang mengikuti pelatihan pengembangan kualitas dan desain anyaman purun tersebut.<br /><br />Desa Palimbang Sari, lanjut Eulis merupakan salah satu sentra kerajinan anyaman purun yang selama bertahun-tahun perajinnya hanya menggunakan desain dan motif sederhana.<br /><br />Padahal sebuah perusahaan di Banjarmasin secara rutin memakai jasa perajin untuk membuat ratusan produk kerajinan berbentuk boks dan parsel dengan modal dan desain yang diberikan dengan upah rendah.<br /><br />Para perajin anyaman purun dan rotan tersebut, selama puluhan tahun masih banyak yang hanya menjual jasa keahlian menganyam yang mereka peroleh turun temurun dari orang tua mereka, hanya untuk memenuhi pesanan beberapa perusahaan di kota lain seperti Banjarmasin.<br /><br />Para perajin, kata Eulis, belum mampu mengembangkan pekerjaaan mereka tersebut menjadi sebuah usaha yang mandiri sehingga lebih cepat meningkatkan taraf kehidupannya.<br /><br />"Sangat disayangkan selama puluhan tahun mereka hanya menjadi pekerja untuk mengampil upah sedangkan modal dan desain ditentukan oleh perusahaan yang menjadi langganan mereka selama ini," katanya.<br /><br />Padahal dengan keahlian yang dimiliki para perajin mampu meningkatkan diri menjadi perajin pengusaha yang mandiri dalam penjualan produk kerajinan mereka.<br /><br />Perajin selama ini belum mampu meningkatkan kualitas dan desain produk kerajinan yang mereka hasilkan sehingga meski mendapat bantuan modal usaha dari Dinas Koperasi, UKM Perindustrian dan Perdagangan belum mampu membangun usaha mereka.<br /><br />"Selama ini jika tidak memenuhi pesanan perusahaan di Banjarmasin mereka menjual sendiri produk kerajinan ke pasar kerajinan yang ada di Kota Amuntai dengan pendapatan yang tentu tidak begitu besar karena produk yang mereka jual juga masih seadanya," jelasnya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>