Ibu-Ibu Mengeluh, Harga Telur Melambung Tinggi

oleh

Isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) disertai menjelang Hari Raya Idul Fitri 1434 H, diduga menjadi penyebab harga telur di pasaran melejit naik. Kenaikan dirasakan cukup memberatkan warga. <p style="text-align: justify;">"Naiknya cukup tinggi. Dulu hanya sekitar Rp 1000-Rp 1200 kini sudah Rp 1500-Rp 1600 perbutir," ujar Herlina, warga Baning Sintang Kalbar<br /><br />Selaku ibu rumah tangga sekaligus pengusaha kue, Herlina mengaku cukup terbebani dengan kenaikan harga telur. Kenaikan tersebut sangat berpengaruh dengan usaha yang ia geluti. "Kalau harga telur mahal, untung kita menjadi sangat tipis. Kita jadi serba salah, menaikan harga atau tidak. Kalau kita naikkan harga, maka permintaan akan menurun," bebernya.<br /><br />Herlina mengaku heran dengan tingginya harga telur di Kota Sintang, termasuk kebutuhan sembilan bahan pokok (Sembako) lainnya. Lebaran masih cukup lama namun harga barang sudah naik jauh hari sebelumnya.<br /><br />"Kita minta pemerintah bisa berbuat untuk mengatasi hal ini. Jangan sampai momen isu kenaikan BBM serta lebaran dijadikan dalih untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Upaya agar pasar tidak melakukan monopoli mesti dilakukan," pintanya.<br /><br />Terpisah Kepala Bidang Perdagangan dan Pasar Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM, H Junaidi, tidak menampik bila sepekan terakhir harga telur mengalami peningkatan. "Saya juga minggu lalu sempat membeli telur dengan harga Rp 1200 tetapi kemarin sudah mencapai Rp 1600,” ucapnya.<br /><br />Menurutnya kenaikan harga telur terjadi karena ada peningkatan  permintaan. "Jumlah permintaan tidak sebanding dengan jumlah barang. Wajar jika harganya naik," ujarnya.<br /><br />Diprediksi harga telur masih akan terus mengalami kenaikan terutama menjelang datangnya hari raya.<br />“Belum nanti kalau sudah bulan puasa, banyak ibu-ibu rumah tangga membuat kue. Semakin banyak permintaan hargapun semakin tinggi," ucapnya.<br /><br />Junaidi mengaku bila pihaknya tidak bisa berbuat banyak terkait melonjaknya harga telur di pasaran. Apa lagi Sintang bukanlah daerah yang memproduksi telur. "Kita masih mendatangkan dari Singkawang. Otomasti harga tergantung dari sana, belum lagi ditambah biaya transportasi. Makanya mahal," ujarnya.<br /><br />Meski harga telur tergolong tinggi, Junaidi yakin hal tersebut tidak begitu berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. "Asalkan barangnya selalu tersedia. Harga itu relatif karena sudah menjadi hukum pasar. Permintaan meningkat hargapun naik," jelasnya.<br /><br />Meski demikian, Junaidi menegaskan bahwa pihaknya tetap melakukan kontrol terhadap harga barang dipasaran. Mencegah terjadinya monopoli pasar, upaya operasi pasar akan dilakukan.<br /><br />"Menjelang Ramadhan kita tetap intensif mengawasi kebutuhan barang. Sebelum puasa nanti, ada opersi pasar. Operasi pasar ini untuk menekan harga di pasaran agar tidak terlalu melambung tinggi sekaligus upaya kita membantu masyarakat dalam mendapatkan barang,” pungkasnya. <strong>(das/Th)</strong></p>