Indeks Tendensi Konsumen (ITK) di Provinsi Kalimantan Barat triwulan I tahun 2013 sebesar 106,12 atau berada di atas angka ITK nasional sebesar 104,70, kata Kepala Badan Pusat Statistik provinsi setempat, Badar. <p style="text-align: justify;">"Ekonomi konsumen membaik karena ditopang oleh peningkatan pendapatan rumah tangga sebesar 106,76; pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan 106,21; serta konsumsi makanan dan non makanan sebesar 104,44," kata Badar di Pontianak, Senin.<br /><br />Badar menjelaskan, dengan besaran ITK 106,12, kondisi konsumen atau masyarakat Kalbar mengalami peningkatan dibanding sebelumnya, sehingga berada di posisi ketujuh tingkat nasional untuk triwulan I 2013.<br /><br />"Untuk ITK se-Kalimantan, ITK Kalimantan Timur tertinggi, yakni sebesar 107,13; disusul Kalimantan Selatan sebesar 106,46; Kalbar 106,12; dan terendah Kalimantan Tengah sebesar 105,01," ungkap Badar.<br /><br />Untuk perkiraan ITK Kalbar pada triwulan II tahun 2013, sebesar 108,05, artinya kondisi ekonimi konsumen juga akan membaik, dan tingkat optimisme konsumen juga mengalami kenaikan dibanding sebelumnya, kata Badar.<br /><br />Sementara itu, menurut data BPS Kalbar, mencatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi itu, triwulan I 2013, tumbuh sebesar 5,79 persen atau sebesar Rp19,87 triliun Pertumbuhan ekonomi Kalbar triwulan I 2013 dibanding triwulan IV 2012 yang diukur dari PDRB mengalami penurunan minus 2,81 persen, kata Badar.<br /><br />Penurunan pertumbuhan tertinggi pada sektor jasa, kontruksi, dan sektor pertambangan-penggalian, sementara sektor yang tumbuh positif, yakni pertanian sebesar 13,62 persen, serta sektor listrik, gas, air bersih sebesar 0,12 persen, kata Badar.<br /><br />Sementara itu, PDRB Kalbar triwulan I 2013, dibanding 2012 tumbuh sebesar 5,79 persen karena semua sektor mengalami pertumbuhan positif, tertinggi sektor konstruksi sebesar 10,97 persen; pertanian 6,57 persen dan sektor pengangkutan komunikasi sebesar 5,44 persen.<br /><br />Struktur PDRB triwulan I 2013, masih didominasi oleh sektor pertanian sebesar 26,50 persen; perdagangan, hotel, dan restoran 22,38 persen; serta sektor industri pengolahan sebesar 16,53 persen, ungkap Badar. <strong>(das/ant)</strong></p>


















