Indonesia Siap Jadikan Eropa Timur Pasar Perkebunan

oleh

Pemerintah Indonesia siap menjadi kawasan Eropa Timur sebagai pasar komiditi perkebunan yang baru untuk mengantisipasi kondisi Eropa Barat yang mulai menurun. <p style="text-align: justify;">Pemerintah Indonesia siap menjadikan kawasan Eropa Timur sebagai pasar komoditas perkebunan yang baru untuk mengantisipasi kondisi ekonomi Eropa Barat yang mulai menurun.<br /><br />Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi di Jakarta, Jumat mengatakan, saat ini pertumbuhan ekonomi Eropa Timur menunjukkan peningkatan yang menggembirakan, sebaliknya Eropa Barat justru rendah yakni antara 1-2 persen.<br /><br />Selain itu, lanjutnya usai melakukan peluncuran Forum Pengembangan Perkebunan Strategis Berkelanjutan (FP2SB), pasar Eropa Barat kini cenderung "cerewet" terhadap ekspor produk perkebunan Indonesia.<br /><br />"Sedangkan Eropa Timur justru sangat terbuka dan tidak `cerewet`, selain itu kawasan ini memiliki potensi pasar yang sangat besar dengan penduduk 300-400 juta orang," katanya.<br /><br />Bayu mengatakan, salah satu upaya untuk menembus pasar perkebunan Eropa Timur yakni dengan mengembangkan "hub" atau pelabuhan pengumpul utama di Montenegro Serbia sehingga memudahkan komoditas perkebunan Indonesia masuk ke wilayah itu.<br /><br />Selama ini, tambahnya, jika ingin melakukan ekspor perkebunan ke Eropa hanya mengandalkan dua pelabuhan yakni Rotterdam Belanda dan Hamburg Jerman.<br /><br />Padahal Jerman sudah mulai memasang aturan yang sangat ketat sehingga dikuatirkan justru merugikan ekspor Indonesia ke Eropa Barat.<br /><br />Menurut Bayu, untuk menembus pasar Eropa Timur nantinya tidak hanya memasarkan produk yang sudah jadi, namun justru Indonesia akan melakukan investasi dengan mengembangkan industri olahan di sana.<br /><br />"Jika memasukkan produk jadi maka akan dikenakan bea masuk, sebaliknya dengan memasukkan bahan baku industri akan dibebaskan," katanya.<br /><br />Oleh karena itu, lanjutnya, agar tidak hanya menjadi pemasok industri di sana maka pemerintah akan mendorong investor dalam negeri membangun pabrik-pabrik pengelohan.<br /><br />Dia mengungkapkan, di beberapa negara lain pengusaha Indonesia juga telah mampu mengembangkan industri perkebunan terutama sawit seperti PT Sinar Mas di Liberia dengan luasan 250 ribu hektar, serta PT Wilmar di Shanghai Cina.<br /><br />"Itulah yang saat ini juga dilakukan Malaysia, mengembangkan industri perkebunannya di negara lain," katanya.<br /><br /><br /><br />Pengembangan komoditas<br /><br />Sementara itu, Ketua FP2SB Achmad Mangga Barani mengatakan, lembaga yang dibentuknya merupakan forum independen untuk membantu dalam upaya pelestarian dan pengembangan komoditas strategis (tebu, sawit, karet dan kakao) nasional pada sub sektor perkebunan.<br /><br />Forum ini, lanjutnya, merupakan mitra pemerintah pusat dan daerah, pelaku dunia usaha dan investasi serta masyarakat pekebun pada subsektor perkebunan dan sektor terkait lainnya.<br /><br />Selain itu juga dengan akademisi dan peneliti, organisasi masyarakat sipil, masyarakat umum dan lembaga internasional bilateral dan multilateral untuk mewujudkan pelestarian dan pengembangan komoditas strategis nasional pada sub sektor perkebunan.<br /><br />"Tujuan forum ini juga untuk membantu membentuk citra yang positif terhadap pelestarian dan pengembangan komoditas strategis nasional pada sub sektor perkebunan," kata mantan Dirjen Perkebunan itu. (Eka/Ant)</p>