Integrasi Konservasi dan Pembangunan Berkelanjutan

oleh

Pembangunan berkelanjutan dan penerapan praktek terbaik (best practice) pada pembangunan kebun kelapa sawit tidak hanya sebagai upaya memenuhi standar operasi yang di minta oleh pasar apalagi dalam kawasan kawasan budidaya pertanian masih ditemukan hutan yang memiliki nilai konservasi tinggi. <p style="text-align: justify;">“Program nasional Heart of Borneo (HoB), penerapan praktek terbaik merupakan salah satu upaya untuk dapat menuju integrasi prinsip konservasi dan pembangunan berkelanjutan,” kata Haryono Sadikin, Koordinator Forrest Conversion Program World Widelife Fund (WWF) Kalbar, Kamis (23/6) di Sintang.<br /><br />Kemarin, WWF melaksanakan workshop penerapan praktek terbaik pada perkebunan kelapa sawit di lansekap HoB yang dilaksanakan di Hotel Santika Puri Sintang melibatkan beragam stakeholder dari unsure pemerintah, perusahaan, organisasi masyarakat sipil pecinta lingkungan  hingga masyarakat yang bersentuhan langsung dengan aktivitas investasi perkebunan.<br /><br />Haryono mengatakan program nasional HoB sebagai inisiatif tiga negara yaitu Indonesia, Sarawak-Malaysia dan Brunei Darussalam dan di Indonesia wilayah HoB meliputi 3 Provinsi yaitu Kalbar, Kalteng dan Kaltim.<br /><br />Program ini bertujuan untuk memastikan pengelolaan sumberdaya alam dan sosial dilakukan secara rasional dan berkelanjutan guna mendukung pembangunan kawasan dan masyarakat secara berkelanjutan,” kata dia.<br /><br />Dijelaskan dia, Indonesia telah menetapkan Kawasan Strategis Nasional (KSN) HoB sebagai salah satu KSN dari 75 KSN yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTWN) dengan pertimbangan kawasan HoB sebagai kawasan yang memiliki nilai strategis dari lingkungan.<br /><br />“Namun karena wilayah HoB berada diperbatasan negara maka bagian dari kawasan ini juga masuk dalam kawasan stretegis perbatasan Negara RI-Malaysia (KASABA),” kata dia.<br /><br />Di dalam penetapan pola ruang, KSN HoB memiliki fungsi sebagai kawasan lindung dan kawasan budidaya dimana pada kawasan lindung didorong untuk dapat mengembangkan ekonomi jasa lingkungan seperti pariwisata alam, karbon offset, industry genetic, jasa air, sumber benih dan lainnya.<br /><br />“Pada kawasan budidaya perlu diarahkan dalam pemanfaatan SDA dengan prinsip praktek pengelolaan terbaik dengan standar sertifikasi yang diterima oleh pasar dan sesuai dengan regulasi pemerintah Indonesia,” kata dia.<br /><br />Pada kawasan budidaya, lanjut Yono, begitu ia biasa disapa. arahan lahan tidak terkecuali untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit karena merupakan salah penyumbang devisa terbersar dari sektor pertanian dan perkebunan.<br /><br />“Setidaknya ditahun 2010 sebesar USD 15 milyar nilai export yang diterima sebagai devisa, jumlah ini setara dengan 12,5 persen dari total export Indonesia di 2009 sebesar USD 116,5 milyar,” ujarnya.<br /><br />Sejak tahun 2006 kata dia, Indonesia telah menjadi produsen terbesar miyak kelapa sawit melampaui Malaysia. Produksi tahun 2010 tercatat sebanyak 21,5 juta ton atau 47 persen dari produksi dunia, sebesar 16 juta ton di ekspor dan 5,5 juta ton merupakan konsumsi dalam negeri. <br /><br />“Sampai saat ini Indonesia terus berupaya melakukan eksspansi luasan perkebunan kelapa sawit untuk dapat memenuhi target produksi sebesar 40 juta ton CPO pada tahun 2020 dan setidaknya dibutuhkan lahan seluas 4 juta hektar dari  8 juta hektar luas perkebunan sawit Indonesia saat ini,” kata dia.<br /><br />Menurutnya, upaya penerapan praktek terbaik pada perkebunan kelapa sawit di lansekap HoB memang menemukan sejumlah permasalahan diantaranya pada kawasan budidaya pertanian atau areal penggunaan lain, masih ditemukan hutan bernilai nilai konservasi tinggi (high conservation value forest/HCVF).<br /><br />Selain itu lanjut dia, ada ketidakpatuhan pada proses tahapan perizinan dan proses pembangunan sehingga menimbulkan banyaknya terjadi pelanggaran lingkungan dan konflik social terutama pada tahap akuisisi lahan dan skema kemitraan sebagai dampak dari tata kelola yang belum rapih. <br /><br />“Dinyatakan oleh beberapa publikasi, sebaran species Orangutan 80 persen terdapat diluar kawasan konservasi dan lindung juga termasuk dalam izin lokasi perkebunan kelapa sawit dan juga terlihat masih rendahnya adopsi praktik terbaik bagi perkebunan kelapa sawit di lansekap HoB,” ucapnya. <strong>(phs)<br />.</strong></p>