Integrasi Sapi-Sawit Pada Dua Kabupaten

oleh

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat sudah mulai melakukan uji coba integrasi peternakan sapi di lahan perkebunan sawit di dua kabupaten yakni Sintang dan Sekadau. <p style="text-align: justify;">"Dua kabupaten itu memiliki perkembangan ternak sangat baik," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kalbar Abdul Manaf Mustafa di Pontianak, Jumat. <br /><br />Menurut Manaf, sapi yang dikembangkan di dua kabupaten itu yakni jenis sapi Bali dengan model kandang kelompok dan dilepas pada siang hari. <br /><br />"Hanya saja masih terkendala kurangnya pengetahuan dan minat perusahaan perkebunan untuk mengembangkan pola integrasi sapi-sawit tersebut," ungkap Manaf. <br /><br />Selain itu, kata Manaf, keterbatasan bibit sapi Bali juga masih menjadi kendala. <br /><br />"Ditambah modal masyarakat yang terbatas dan Sumber Daya Manusia serta sarana teknis yang masih terbatas," kata Alumnus Institut Pertanian Bogor itu. <br /><br />Ia pun menyarankan agar perusahaan sawit saja yang mengembangkan peternakan sapi integrasi sawit melalui dana "Corporate Social Responsibility" ataupun dengan dana perbankan. <br /><br />Namun begitu, lanjutnya, program integrasi peterenakan sapi pada perkebunan sawit itu juga membutuhkan dukungan kebijakan dari pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. <br /><br />Lebih lanjut Manaf menjelaskan, pada hasil pembelajaran pengembangan sapi di kebun Kelapa Sawit diperoleh informasi satu hektare kebun sawit dapat dikembangkan sebanyak dua ekor sapi. <br /><br />"Apabila hal tersebut dilakukan di Kalbar, maka dengan luasan kebun sawit yang tertanami saat ini 602 ribu hektare, maka akan dapat dikembangkan sapi pototng sebanyak 1,2 juta ekor setahun," ungkap Manaf. <br /><br />Dengan begitu, tambahnya, apabila hal itu dapat terwujud, makan Kalbar akan dapat menjadi pemasok utama sapi potong baik untuk keperluan nasional maupun sebagai komoditas ekspor.<strong> (das/ant)</strong></p>