Jakarta Biennale 2013 Menyorot Seni Tata Ruang Kota

oleh

Sebanyak 52 seniman dari 18 negara memeriksa ulang dan mengkritisi tata ruang kota melalui karya mereka dalam ajang seni rupa kontemporer internasional 15th Jakarta Biennale 2013. <p style="text-align: justify;">"Kami ingin memeriksa ulang posisi dan praktik artistik warga dalam menyiasati keterbatasan, ketidakstabilan, masalah, ancaman, potensi maupun kesempatan yang dihadapi di ruang kota," kata Direktur Artistik Jakarta Biennale 2013 Hafiz Rancajale di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Rabu.<br /><br />Perhelatan seni rupa dua tahunan yang akan berlangsung 9-30 November mendatang itu, menurut dia, juga mengidentifikasi masyarakat dalam mensiasati ruang kota secara alami atau organik. <br /><br />"Bahkan beberapa justru tumbuh secara mengejutkan serta membentuk struktur dan pola tersendiri dan akhirnya berperan dalam kehidupan kota," tambahnya.<br /><br />Tahun ini penyelenggara Jakarta Biennale memilih tema "Siasat",  kata serapan dari Bahasa Arab yang bermakna politik namun bisa diartikan secara luas sebagai taktik maupun akal untuk mencapai suatu tujuan.<br /><br />Karya seni kontemporer seniman Indonesia dan mancanegara akan tampil bersama proyek-proyek artistik yang melibatkan warga kota, komunitas seni rupa, aktivis serta kelompok seniman di ruang parkir bawah tanah Teater Jakarta TIM, Museum Seni Rupa dan Keramik, lembaga budaya serta ruang publik di Jakarta.<br /><br />Seniman mancanegara yang akan mendukung Jakarta Biennale ke-15 itu antara lain berasal dari Singapura, Filipina, Prancis, Belanda, Kanada, Australia, Palestina, Jerman, Kolombia, Palestina, Korea Selatan, China, dan Kenya. <strong>(das/ant)</strong></p>