Jalan Rusak Parah, Masyarakat Boyu dan Senempak Merasa Sengsara

oleh
Sejumlah mobil angkutan yang terjebak dalam lubang berisi lumpur di akses jalan menuju Desa Boyu dan Senempak---Istimewa

MELAWI- Akses jalan poros menuju ke Desa Boyu dan Desa Senempak Kecamatan Pinoh Selatan mengalami kerusakan yang sangat parah. Kondisi jalan yang masih tanah kuning tersebut berkubangan lumpur. Tak jarang kendaraan bermuatan sembako serta hasil produksi perkebunan karet warga harus menginap di jalan tersebut. Ironisnya, meski sudah lama mengalami kerusakan, tetapi belum juga diperbaiki oleh pemerintah terkait.

Kades Senempak, Sahidin mengatakan, kerusakan tersebut sudah sangat lama terjadi. Semakin hari semakin parah. Perbaikanpun hanya dilakukan seadanya oleh warga setempat secara swadaya, sementara dari pemerintah belum ada perhatian.

“Jalan Ke Senempak ini pembukaan jalannya dulu menggunakan anggaran PNPM tahun 2011. Sejak dibuka sampai sekarang belum ada perbaikan atau peningkatan jalan dari Pemkab Melawi. Jalan sepanjang kurang lebih 9 kilo dengan lebar 4 meter kini sangat sulit dilalui masyarakat,” kata Sahidin, ditemui di Nanga Pinoh, Minggu (17/3).

Lebih lanjut Sahidin mengatakan, Ia khawatir, peningkatan jalan tidak bisa dilakukan oleh pemerintah karena status lahan jalan tersebut masuk dalam kawasan hutan. “Karena berdasarkan titik koordinat yang pernah kami cek, lokasi tersebut masuk dalam kawasan hutan,” paparnya.

Masyarakat sangat meraa sengsara sekali apabila melalui jalan tersebut. Sebab kondisinya yang sudah sangat parah, dihiasi lubang-lubang berisikan lumpur, dan medannya yang berat, harus melalui turun naik bukit.

“Jalan tersebut sangat dikeluhkan masyarakat, bahkan bawa hasil pertanian dan bawa barang dagangan harus nginap di jalan 3 sampai 4 hari. Karena harus berdorong dulu. Terlebih musim hujan belakangan ini membuat licin sehingga ketika dilalui mobil angkutan, lubang berisi lumpur semakin dalam. Bahkan sering terjadi longsor,” jelasnya.

Akses jalan menuju ke Desa Boyu dan Senempak tersebut masuk wiayah perkebunan karet PT Cakrawala. Namun pihak perusahaanpun tidak bisa diminta pertolongan, karena jumlah produksi yang sudah berkurang, karena karet yang ada harus dilakukan peremajaan.

“Jadi pihak perusahaan juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kamipun terpaksa pasrah menggunakan jalan rusak itu. Jalan rusak itu memberikan banyak dampak, terlebih kepada harga kebutuhan pokok di kampung kami. Rata-rata harganya lebih mahal dari di Nanga Pinoh yakni sekitar Rp. 4-5 ribuan,” paparnya.

Terpisah, Sopiyan Koto, seorang warga Desa Boyu sangat mengeluhkan kondisi kerusakan jalan tersebut. terlebih dirinya yang setiap hari membawa mobil pick up sebagai alat transportasi angkutan penumpang dan barang milik warga. “Kerusakan jalan tersebut juga tak lepas dari kurangnya perhatian pemerintah. Jadi pemerintah diharapkan bisa segera melakukan peningkatan jalan menuju Desa Boyu dan Senempak ini,” katanya.

Ia mengatakan, selain jalan yang dipenuhi lubang beerlumpur, kondisi jembatan serta gorong-gorong yang ada dijalan tersebut juga mengalami kerusakan. “Tidak jarang kami menginap di jalan berlumpur. Terlebih kalau sudah sore, kami tidak bisa memaksa untuk berjalan, karena jauh sekali dari pemukiman warga. Jadi terpaksa kami harus tidur didalam mobil sampai menunggu bantuan dari mobil lain yang lewat,” pungkasnya. (edi/KN)