Jalan Tikus, Digunakan Masyarakat Perbatasan Belanja Ke Malaysia

oleh

Banyaknya jalan tikus yang ada diwilayah perbatasan Kabupaten Kapuas Hulu, digunakan masyarakat untuk menuju Negara tetangga terutama dalam membeli sembako, pasalnya jalan Tikus tersebut ada yang berada dibelakang rumah warga, salah satunya di Desa Seriang, Kecamatan Badau. <p style="text-align: justify;&quot;>Demikian diungkapkan oleh Robertus, SH selaku Anggota DPRD Kapuas Hulu, kepada kalimantan-news.com beberapa hari yang lalu. <br /><br />“Diperbatasan Kita itu banyak sekali jalan tikus, dan itu merupakan jalan yang digunakan masyarakat menuju Negara tenangga Malaysia terutama dalam membeli sembako, dan rata-rata jalan tikus itu berada di belakang rumah warga, ini hasil temuan Kita dilapangan faktanya seperti itu,” ungkapnya serius. <br /><br />Robertus yang juga merupakan Ketua Fraksi Partai Demokrasi  Indonesia Perjuangan menilai bahwa jalan tikus tersebut tidak mungkin bisa ditutup jika tidak ada tindakan tegas dari Pemerintah Pusat, meskipun ada pihak TNI yang jaga disitu namun jalan tikus itu masih saja digunakan, sebab masyarakat lebih banyak memilih berbelanja ke Malaysia ketimbang produk dalam negeri, hal tersebut karena faktor  harga. <br /><br />“Jalan tikus tidak mungkin bisa ditutup, sekalipun PLB Badau dibuka, sebab masyarakat lebih suka membeli sembako dari Malaysia karena harganya murah dibanding harga sembako Kita, untuk itu mesti ada tindakan dari Pemerintah, agar masyarakat di perbatasan tidak tergantung dari barang-barang illegal yang berasal dari Negara Malaysia,” tegasnya. <br /><br />Tidak hanya itu, menurut Robertus dengan kondisi yang saat ini terjadi dengan banyaknya masyarakat yang lebih memilih barang-barang Malaysia, sangat merugikan Indonesia sebab perputaran uang malah terjadi di Negara tetangga dari masyarakat Indonesia. <br /><br />“Otomatis pajaknya kan masuk ke Malaysia, seharusnya pemerintah memikirkan solusinya khusus daerah perbatasan terutama sembako, Pemerintah Pusat jangan hanya memikirkan kesejahteraan Pulau Jawa lah, masyarakat perbatasan kan juga orang Indonesia,” tandasnya.<strong>(phs)</strong></p>