Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat memperkirakan dalam tiga tahun hingga empat tahun mendatang akan terjadi "booming" produksi kelapa sawit seiring mulai berbuahnya tanaman dalam skala luas. <p style="text-align: justify;"><br />"Kalau sekarang produksi crude palm oil sekitar satu juta ton, kalau terjadi ‘booming’, mungkin bisa dua juta ton, atau lebih," kata Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalbar Hiarsolih Buchory di Pontianak, Kamis.<br /><br />Provinsi Kalbar menargetkan areal kepala sawit mencapai 1,5 juta hektare dalam beberapa waktu mendatang.<br /><br />Saat ini, lanjut dia, yang sudah mulai ditanami sekitar satu juta hektare. Namun yang sudah produksi baru sekitar 500 ribu hektare dengan berat berkisar empat juta ton tandan buah segar.<br /><br />Ia yakin produksi sawit Kalbar juga bakal dapat lebih besar kalau dilakukan optimalisasi lahan.<br /><br />"Sekarang, rata-rata produksi baru sekitar dua ton per hektare per bulan. Ini hanya di beberapa daerah saja, bahkan banyak petani terutama yang swadaya, baru mampu dibawah dua ton per bulan per hektare," kata dia.<br /><br />Idealnya, ujar Hiarsolih, dalam satu tahun, satu hektare lahan mampu menghasilkan 35 ton sawit.<br /><br />Selain itu, tingkat rendemen buah sawit asal Kalbar juga terbilang belum ideal. "Sekarang di kisaran 20 persen sampai 21 persen. Ini perlu ditingkatkan, target kami 26 persen," katanya.<br /><br />Ia menegaskan, harga dolar AS yang terus menanjak, ikut mempengaruhi harga di tingkat petani. Ia mencontohkan untuk buah sawit dari tanaman usia 10 tahun sampai 20 tahun, sekarang di kisaran Rp1.800 per kilogram TBS. "Sebelumnya hanya Rp1.600 per kilogram," katanya.<br /><br />Ia berharap, membaiknya harga itu akan semakin mendorong pertumbuhan ekonomi di Kalbar serta dampak ikutannya. <strong>(das/ant)</strong></p>

















