Kalbar Masuk Prioritas Pengembangan Agroindustri Umbi-Umbian

oleh

Kementerian Pertanian RI menjadikan Provinsi Kalimantan Barat sebagai salah satu prioritas pengembangan agroindustri umbi-umbian. <p style="text-align: justify;">Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar, Hazairin di Pontianak, Rabu, mengatakan, pengembangan umbi-umbian merupakan bagian dari upaya diversifikasi pangan.<br /><br />"Selama ini, umbi-umbian masih diabaikan termasuk pengembangan untuk agroindustri," ujar Hazairin.<br /><br />Kalbar menjadi tuan rumah pertemuan pengembangan agroindustri antara Direktorat Pengolahan Hasil Pertanian Kementerian Pertanian dengan sepuluh provinsi dan 21 kabupaten/kota yang berpotensi untuk umbi-umbian. Pertemuan berlangsung di Pontianak, Selasa (17/4) malam.<br /><br />Ada tiga jenis umbi yang menjadi perhatian meliputi keladi/talas, singkong dan ubi jalar Salah satu bentuk dukungan di antaranya penyediaan alat pengolahan singkong dari bahan mentah menjadi setengah jadi.<br /><br />Di Kalbar sendiri, potensi untuk tanaman singkong sekitar 100 ribuan hektare. Sedangkan untuk ubi jalar puluhan ribu hektare, talas 800-an hektare.<br /><br />Ia mengakui, untuk mendukung optimalisasi umbi-umbian, perlu diperkuat dengan teknologi industri.<br /><br />"Kalau tidak, maka percuma saja. Untuk mengubah kebiasaan masyarakat, membutuhkan alternatif," ujar dia.<br /><br />Saat ini, kata Hazairin, konsumsi beras di Kalbar sekitar 113 kilogram perorang pertahun.<br /><br />"Konsumsi beras cukup tinggi karena pangan alternatif tidak didukung oleh pengolahan dan pengemasan," ujarnya.<br /><br />Ia mencontohkan, kalau ubi jalar atau singkong hanya direbus dan digoreng sebelum disajikan, tentu kurang menarik.<br /><br />"Tetapi kalau diolah dan dikemas dengan baik, pasti orang akan suka. Dan ini sudah berhasil dilakukan di berbagai negara maju," kata Hazairin. <strong>(phs/Ant)</strong></p>