Kaltim Bantu 10 Laptop Di Sekolah Perbatasan

oleh
oleh

Dinas Pendidikan Kalimantan Timur membantu 10 laptop kepada tiga sekolah di kawasan perbatasan RI-Malaysia, yakni SDN O1, SMPN 1, dan SMP Mutiara Bangsa, yang berada di Kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan. <p style="text-align: justify;">"Bantuan itu telah kami serahkan langsung ke masing-masing sekolah saat saya bersama Wakil Gubernur Kaltim Farid Wadjdy mengunjungi sejumlah sekolah di perbatasan negara itu kemarin," kata Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Timur H Musyahrim dihubungi dari Samarinda, Jumat.<br /><br />Adapun rincian sekolah yang menerima bantuan laptop untuk operasional sekaligus sebagai proses belajar mengajar itu adalah, untuk SDN 01 Sebatik sebanyak dua unit, SMPN 1 Sebatik tiga unit, dan untuk SMP Mutiara Bangsa sebanyak 5 unit.<br /><br />Dia mengatakan, sebagian besar para siswa yang belajar di sekolah itu merupakan anak-anak para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia, sehingga kondisi ini menjadi perhatian tersendiri bagi Pemprov Kaltim karena selama ini banyak anak TKI yang tidak mendapatkan pendidikan layak.<br /><br />Di SMP Mutiara Bangsa misalnya, sekolah yang dipadukan dengan pendidikan Pondok Pesantren (Ponpes) itu, jumlah siswanya sebanyak 220 orang, mayoritas merupakan anak para TKI.<br /><br />Di sekolah ini juga menampung enam siswa yang beragama nonmuslim. Siswa nonmuslim ini hanya mengikuti pendidikan umum, namun tidak mengikuti program pondok pesantren. Orang tua dari enam siswa itu juga merupakan TKI di Malaysia.<br /><br />Dia melanjutkan, secara perlahan tapi pasti, daerah perbatasan harus terus diupayakan berkembang sehingga kelak tidak kalah dengan negara tetangga, tentu saja Dinas Pendidikan Kaltim turut mendorong kemajuannya.<br /><br />Terkait dengan itu, maka para siswa di perbatasan yang merupakan para generasi penerus tersebut, dimintanya untuk belajar yang rajin dan kreatif, tujuannya adalah agar di masa mendatang mampu menunjukkan kejayaan daerah dan negara.<br /><br />Sementara itu, Ketua Yayasan Mutiara Bangsa H Suriansyah mengatakan sekolah terpadu ini berkomitmen dalam perjuangan untuk mendidik dan membina masyarakat perbatasan, serta anak para TKI yang dititipkan untuk belajar.<br /><br />Banyak keterbatasan menyangkut fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar, namun itu tidak mengurangi semangat guru dan siswa untuk berjuang membangun pendidikan di perbatasan.<br /><br />Suriansyah menjelaskan, untuk kebutuhan konsumsi 226 siswa yang belajar di sekolah tersebut, setiap bulannya mereka membutuhkan setidaknya 3 ton beras. Hingga saat ini dukungan pemerintah daerah diakuinya sudah cukup baik. <strong>(das/ant)</strong></p>