Kapal Evakuasi Moncong Pesawat Dihadang Gelombang Tinggi

oleh
oleh

Tim gabungan yang mengevakuasi barang yang diduga puing atau moncong Pesawat Airasia QZ8501 terpaksa menunda pelayaran ke Pulau Sembilan, karena dihadang gelombang setinggi dua meter. <p style="text-align: justify;"><br />"Saat ini tim yang menggunakan kapal milik Polisi Perairan Polres Kotabaru, berteduh di Pelabuhan Mekar Putih, Pulaulaut Barat, dan beristirahat, karena di perairan Kotabaru terjadi gelombang sekitar 2 meter," kata Koordinator Pos SAR Kotabaru, Zulkifli, Selasa.<br /><br />Rencananya tim akan melanjutkan pelayaran ke Pulau Sembilan pada Rabu (21/1) sekitar pukul 05.00 WITA atau 06.00 WITA.<br /><br />"Diperkirakan pada jam-jam tersebut kondisi laut teduh, tidak seperti saat ini terjadi gelombang tinggi dan angin kencang," tambah anggota Rescuer Pos SAR Kotabaru, Adi Maulana.<br /><br />Adi menjelaskan, tim gabungan yang menggunakan kapal Polair tersebut berangkat dari Pelabuhan di Kotabaru pada Rabu (21/1) pagi menuju Pulau Sembilan.<br /><br />Setelah beberapa jam berlayar, terjadi gelombang tinggi dan angin kencang, sehingga kapal mencari tempat teduh dan beristirahat.<br /><br />Rencananya, tim akan mengevakuasi barang yang diduga moncong pesawat Airasia, yang ditemukan nelayan asal Dusun Karang, Tanjung Nyiur, Kecamatan Pulau Sembilan, Kotabaru.<br /><br />Koordinator Pos SAR Kotabaru Zulkifli, mengatakan, benda tersebut ditemukan nelayan bernama Nita, sekitar lima mil dari Pulau Marabatuan.<br /><br />"Barang yang ditemukan pada Senin (19/1) sekitar pukul 11.15 Wita tersebut langsung dibawa Nita ke rumah Kepala Desa Tanjung Nyiur, untuk diamankan," kata Zulkifli, yang mengaku mendapatkan laporan dari Komandan Resort Militer (Danramil) Pulau Sembilan, Sersan Mayor Ridho.<br /><br />Dia menjelaskan, barang yang diduga moncong Pesawat Airasia QZ8501 tersebut tipis dan panjang sekitar dua meter.<br /><br />Barang yang diduga moncong pesawat tersebut ditemukan Nita mengapung di perairan yang biasa untuk menangkap ikan.<br /><br />Setelah menemukan barang, nelayan tersebut langsung dibawa ke rumah Kepala Desa Tanjung Nyiur, menunggu evakuasi dari Kotabaru.<br /><br />"Karena setelah ada laporan barang tersebut akan dievakuasi, sehingga warga menyimpannya di Desa Tanjung Nyiur, di Pulau Marabatuan," kata dia. (das/ant)</p>