Kartiyus: Masyarakat Perbatasan Sengaja Dibatas-Batasi Oleh Negara

oleh

Masyarakat perbatasan bukanlah lagi mereka yang sekedar tinggal diperbatasan tetapi mereka adalah orang yang hidupnya penuh dengan keterbatasan. <p style="text-align: justify;">Kartiyus, salah satu peserta seminar nasional yang digelar dalam rangka memperingati hari pahlawan mengungkapkan keadaan masyarakat perbatasan yang kehidupannya sengaja dibatas-batasi oleh negara.<br /><br />"Di perbatasan, bukan hanya sekedar wilayah saja, tapi memang segalanya dibatas-batasi oleh negara, baik itu masalah pendidikan, ekonomi, sosial dan masih banyak hal lain dari segi kehidupan masyarakat yang serba terbatas," terang Kartiyus disela-sela seminar yang digelar pada  Rabu (27/11/2013) di gedung Pancasila. <br /><br />Ia juga mengkritisi beberapa pandangan orang yang mengatakan masyarakat di daerah perbatasan tidak memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Pasalnya, ia menilai, banyak sekali perjuangan yang dilakukan oleh masyarakat di daerah perbatasan demi negara.<br /><br />"Yang ingin saya tanyakan, apakah pemerintah masih mau mengurusi daerah perbatasan, kalau tidak, bagaimana sikap republik jika manusia yang hidupnya serba terbatas, dan apakah kami harus memilih pindah ke negeri tetangga ?," tanya Kartiyus.<br /><br />Prof. DR. Armai Arief, MA, sebagai pembicara di Seminar nasional yang menarik tema Reorientasi Semangat Nasionalisme Dan Bela Negara Bagi Pemuda Dalam Pembangunan Daerah Perbatasan Negara, mengatakan akan membicarakan hal ini bersama Badan Nasional Pengelola Perbatasa (BNPP) agar kedepannya manusia yang di daerah perbatasan bukan lagi manusia yang serba memiliki keterbatasan.<br /><br />"Kita akan membahas ini bersama, dengan harapan, kedepannya masyarakat di daerah perbatasan bukanlah menjadi manusia yang punya keterbatasan baik pendidikan, ekonomi dan kehidupan sosial lainnya. Untuk itu, saya pikir, pemekaran PKR merupakan langkah tepat untuk perbaikan," jelasnya.<br /><br />Sementara itu, Bupati Sintang, Drs. Milton Crosby, M.Si  mengungkapkan, perbatasan akan menjadi pusat perhatian terutama generasi muda bagaimana cara memupuk rasa nasionalisme yang dapat diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari.<br /><br />Ia mengatakan, untuk meningkatkan daerah perbatasan baik infrastruktur maupun SDMnya dibutuhkan pemekaran wilayah, yaitu pembentukan Provinsi Kapuas Raya (PKR).<br /><br />"Hanya ada satu kata pasword, yaitu pembentukan PKR. Dengan adanya pembentukan PKR, maka akan berdampak positif dan luas, termasuk dalam pembinaan wawasan dan kebangsaan, nasionalisme dan pembangunan wilayah," ujarnya.<br /><br />Selain itu, dengan terbentuknya PKR dapat membangun wilayah perbatasan baik infrastruktur maupun masyarakatnya. Pemberian beasiswa untuk masyarakat perbatasan yang tidak mampu juga perlu diberikan agar masyarakat tidak merasa diabaikan.<br /><br />"Untuk itu, perlu adanya komunikasi yang baik dan efektif dengan pemerintah lima kabupaten pembentukan PKR," terang bupati. <strong>(das/yri)</strong></p>