Kasus DBD Bagai Momok Yang Menakutkan

oleh
Ilustrasi

MELAWI- Meskipun tahun ini Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Nanga Pinoh belum terdaftar kasus Demam Berdarah Dangue (DBD). Namun kasus ini sangat menjadi kekhawatiran para dokter.

“Kasus di Nanga Pinoh yang paling kami takuti yaitu penyakit DBD. Pada April tahun lalu kasus DBD ini cukup tertinggi, yakni berjumlah 17 kasus untuk di wilayah Nanga Pinoh. Puji tuhan, pada tahun 2018 ini, hingga memasuki pertengahan April, kami belum mendapatkan laporan yang resmi dari Dinas Kesehatan, dan dari rumah sakit terhadap kasus ini,” kata Kepala Puskesmas Nanga Pinoh, dr. Indrakrisna Agung Pratikna, ditemui diruangan kerjanya, Selasa (10/4).

Meskipun begitu, Puskesmas Nanga Pinoh sudah ada mendapatkan informasi terkait DBD tersebut di daerah Nanga Kayan. Sehingga pihaknya akan segera melakukan koordinasi serta menindaklanjuti informasi tersebut.

“Jadi rencana kami besok kami akan langsung kunjungan kesana, karna kami baru dapat informasi nya Senin malam kemarin dan hari ini kami akan melakukan koordinasi dengan pihak Pukesmas, persiapan apa yang perlu kami siapkan, besok pagi kita langsung menuju ke Nanga Kayan,” ucapnya.

Pria yang akrab disapa dr. Agung ini menjelaskan, terkait kasus tersebut petugas kesehatan di Nanga Kayan sudah berkoordinasi dengan kepala desa bahwa ada tim dari pukesmas akan datang. Kedatangan pihak Puskesmas Nanga pinoh nantinya untuk berkoordinasi dengan kepala desa, kepala dusun, tokoh masyarakat, tokoh agama di Nanga Kayan, dalam hal penanganan DBD tersebut.

“Kami berkoordinasi langkah-langkah apa yang harus kami lakukan. Dulu-dulunya yang selalu di kejar adalah fogging, tetapi sudah di intruksikan sama Kemenkes, Fogging itu tidak efektif. Karena  saat dilakukan fogging, masyarakat cenderung membuka semua jendela, pintu, nyalakan semua kipas angin jadi asap pogging itu keluar, nyamuknya pun pergi,” kelasnyua

Jadi, lanjut Agung, sekarang ini program yang di gembar-gemborkan dan selalu di kampayekan adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan Gerakan Jumat Bersih (GJB).

“Jadi, yang perlu dilakukan saat GJB yaitu 4M plus. Yaitu menutup penampungan air, mengguras bak penampungan air secara berkala, menggubur sampah yang berpotensi menampung air dan terakhir memantau,” jelasnya.

Memantau, katanya, yakni melakukan pemantauan tempat gantungan baju, jangan sampai terlalu banyak gantungan. Sebab bisamenjadi tempat perkembang biakan nyamuk. Kemudian tirai-tirai, orden-orden itu tempat sarangnya nyamuk yang harus di pantau dan dimusnakan.

Kemudian untuk plusnya, yakni itu memberi penyuluhan kepada anak-anak di sekolah, kegiatannya yaitu, menanam tanaman yang tidak di sukai nyamuk plus itu adalah tindakan-tindakan yang diluar dari 4M. Hal itu untuk mengurangi resiko perkembangan atau memutus perkembang biakan nyamuk. Kemudian memasukan ikan dalam bak penampungan, misalnya bisa dengan ikan cupang.

“Kami sedang mengupayakan dikampayekan maksudnya, kami berusaha berkoordinasi kepada setiap sekolah, untuk meminta nomor-nomor kepala sekolah yang ada di kecamatan Naga Pinoh. Mengapa kami lakukan di sekolah, karena kebiasaan nyamuk DBD menggigit pada waktu pagi dan pada saat anak-anak lagi belajar atau lagi ujian, mereka kurang bergerak, dan saat kurang bergerak itulah terjadi resiko tergigit DBD, maka dari itu harapannya segera dapat tindak lanjut,” pungkasnya. (edi/KN)