Kasus Pemukulan Siswa SMAN 2 Sintang

oleh

Pihak keluarga Raimond Gabriel, Sabtu (17/09/2011) datang ke sekolah untuk mengklarifikasi kasus penganiayaan yang dilakukan gurunya, Winoto, pembicaraan alot namun tak ada kata mufakat, pihak keluarga tetap akan melanjutkan persoalan itu ke proses hukum. <p style="text-align: justify;">Pertemuan yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah SMA Negeri 2 Sintang itu dihadiri beberapa orang guru dan Raimond beserta beberapa orang keluarganya. Pada intinya Leo, abang ipar Raimond mengatakan kedatangan mereka ke sekolah itu adalah untuk menyatakan rasa tidak terima atas perlakuan terhadap adiknya dan bertemu langsung dengan guru yang melakukan perbuatan tersebut. Sekitar satu jam pertemuan, akhirnya pihak keluarga Raimond meninggalkan sekolah.<br /><br />Usai pertemuan tersebut, Winoto yang enggan fotonya dimuat memberikan klarifikasi atas apa yang terjadi, berikut kronologis yang disampaikan Winoto kepada sejumlah wartawan diruang kepala sekolah kemarin.<br /><br />“Sekitar pukul 08.30, ada sekelompok anak diantaranya Raimond yang paling depan, pas saya keluar dari kantor melihat dia melompat dan menendang tembok dibawah mading, karena kami ini guru, makanya saya datangi dan saya panggil dia,” jelasnya.<br /><br />“Raimond, coba sini dulu mengapa kamu seperti itu,” tanya Winoto kepada Raymond. Menurut Winoto, Raimond pura-pura berbalik, tetapi yang jelas dia tetap melihat Winoto karena jaraknya tidak jauh.<br /><br />“Setelah itu karena dia tahu kesalahannya mungkin dia spekulasi karena anak-anak sudah besar saya kira wajar, tapi dia malah tidak bagus juga malah manggil kawannya sambil dia mau berjalan menghindari saya,” jelasnya.<br /><br />Winoto memanggil untuk menanyakan mengapa Raimond seperti itu. <br /><br />“Lalu kelihatannya dia seperti melawan, makanya saya tempeleng, setelah itu saya tanya lagi mengapa kamu melakukan itu, dia malah menjawabnya lain, mana ada bekas telapak sepatu,  ini itu lah, saya tidak melakukan saya hanya lompatlah,” ucapnya.<br /><br />Kemudian Winoto mengatakan kalau hanya lompat mengapa lompat harus menendang tembok, setelah itu kata dia Raimond berbicara dengan suara keras lebih tinggi dari nada bicara Winoto yangs udah cukup keras.<br /><br />“Akhirnya saya bawa dia ke ruang untuk menerima tamu, saya diam dulu setelah itu saya bilang ke dia sebenarnya kamu melompat itu ngapa, dia jawab nggak ada ini dan itu, terus saya bilang jangan bohongi, saya ini tahu mon,” kisah Winoto.<br /><br />Ia juga mengatakan coba kalau dipanggil pak guru itu datang baik-baik.<br /><br />“Kamu datang kamu pun tidak ditempeleng seperti ini, saya pun juga katakan kalau saya tadi memang agak terlalu, mohon maaf lah, tapi dia masih bilang ini itu, malah menjawabnya kemana-mana, setelah itu saya diam,” paparnya.<br /><br />Ia kemudian mengatakan  mau ngomong apa lagi, menurutnya Raimond sudah banyak masalah di sekolah itu tapi hal itu masih dianggapnya wajar.<br /><br />“ Jadi tolong saya ini hanya membina kamu saja jangan sampai kalian ini melakukan hal-hal yang seperti itu,” ujarnya mengulang kembali apa yang disampaikan kepada Raimond.<br /><br />Ia juga mengatakan kjalau di tata tertib sekolah sudah jelas dan Raimond sudah melanggarnya khususnya di pasal empat.<br /><br />“Coba dibaca termasuk salah satunya jangan sampai merusak fasilitas sekolah, kalaupun itu sengaja atau tidak itu kan jelas itu,” tukasnya.<br /><br />Selanjutnya ia menegaskan kalau ketika itu  ia sudah minta maaf kepada siswa bersangkutan dan kelihatannya siswa tersebut tidak mau, melihat itu ia kemudian mengatakan bagaimana kalau dibuatkan panggilan untuk<br />orang tuanya.<br /><br />“Dia menjawab masa sejauh ini pak, hanya masalah seperti ini, tapi saya katakan bukan masalah seperti ini, saya ingin kamu itu masalahnya selesai dan dasarnya saya tidak ingin mukul ini itu untuk kesenangan saya atau saya tukang pukul, bukan, ini pembinaan karena saya ini guru olahraga untuk membina kedisiplinan,” kata dia.<br /><br />Ia sangat berharap anak-anak bangsa ini tahu mana yang salah dan tidak benar, jangan sampai melompat dan menendang dinding itu dianggap benar, tidak dibina, akhirnya nanti melakukan hal-hal yang lain dianggap benar.<br /><br />“Saya ingin membina dan memperbaiki, karena yang saya bina itu banyak yang berhasil, tetapi membina seperti ini itu kami guru memang lemah, bisa jadi bumerang buat saya karena apa yang dilihat hasilnya bukan prosesnya karena hasil seperti itu kriminal, makanya guru lemah sekali, kalau seandainya saya jadi guru malas, maunya anak berjungkir saya biarkan sekali, saya aman,” kata dia.<br /><br />Tapi ujarnya, bagaimana generasi yang akan datang ini ketika melakukan seperti itu, kenyataannya niat baik niat baik diartikan salah, diartikan pemukulan itu kriminal dan sebagaimana.<br /><br />“Kalau memang saya mukul mungkin ya bekasnya sampai bengkak, sampai ke rumah sakit, ini namanya juga nampar, nampat itu kan memperingatkan bahwa itu adalah melakukan esuatu yang sudah diatas ambang rata-rata, tidak mungkin saya nampar 800 anak tiap hari kan,” jelasnya.<br /><br />Kalau anak sudah baik kata dia ya dibina dan ditingkatkan, kalau yang kurang baik dinasehati, kalau sudah yang terlalu mau bagaimana juga.<br /><br />“Saya juga bukan malaikat kan, harus benar terus harus seperti ini, konsepnya Aharus A terus, seperti yang dikronologiskan dari yang lain, yang diambil saya ini yang jelek-jeleknya saja, yang piala sekian banyak yang dihasilkan membina silat sampai tingkat nasional pun akhirnya sama sekali tidak ada,” sesalnya.<br /><br />Menurutnya, sejak 2008 memang SMA Negeri 2 basisnya atlet silat Kabupaten Sintang baik mewakili Kalbar maupun tingkat nasional, bahkan waktu di pekan olahraga perbatasan anak-anak didiknya juga banyak berprestasi.<br /><br />“Tapi saya sadar kalau prestasi itu tidak mengangkat nama saya, tetapi yang mengangkat nama saya itu yang jelek seperti ini,” ujarnya.<br /><br />Ia sangat menyayangkan masalah itu sampai ke proses hukum karena yang dilakukan adalah niat baik untuk membina.<br /><br />“Memang itulah, niat baik itu belum tentu disambut dengan baik, kenyataanya kemarin saya suruh memanggil bapaknya juga tidak mau, maksud saya clear hari itu, dari pernyataan abang yang mewakili tadi terus terang saya disudutkan dan dipojokkan, saya sebagai manusia tidak mau,” jelasnya.<br /><br />Ia sekali lagi menegaskan sebelum masalah itu sampai ke polisi sudah ada proses, setelah ditempeleng itu ia mengajak Raimond berbicara dan bahkan menyampaikan pernyataan maaf karena agak terlalu, karena ketika itu siswanya bersikap kurang sopan dengan guru yang memanggil, bahkan ia sudah meminta agar orang tua datang sehingga hari itu persoalan selesai.<br /><br />“Saya bilang kalau sudah tidak ada lagi, silakan masuk ke kelas kembali dan jangan ulangi perbuatan seperti itu lagi,” jelasnya.<br /><br />Hari itu juga ia mengatakan sudah memberitahukan kepada kepala sekolah dan kepala sekolah yang sedang berada di luarkota meminta agar masalah itu bisa diselesaikan dengan baik.<br /><br />Menurutnya, pengalaman 12 tahun menjadi guru memang anak-anak yang bermasalah seperti ini ketika diperingatkan dengan keras akan merasa suatu waktu bahwa ketika diperingatkan itu dia baru mengetahui salah dan berterima kasih sudah diingatkan.<br /><br />“Tapi gayung tidak bersambut, maksud baik tetapi kenyataannya bukan baik yang kita dapat, bukan bagaimana anak itu dibina karena sudah terlalu biar tak berbelok, tetapi hanya akibatnya saja yang muncul, apakah ini pembinaan atau tidak, mereka tidak memperhitungkan itu yang penting dia kena pukul dan itu kriminal, vonisnya kan begitu,” ucapnya.<br /><br />Ditanyakan setelah dilaporkan apakah bersedia menjalani proses, ia mengatakan silakan namun dari pihak sekolah ada penyelesaian dengan baik, karena masyarakat sekolah itu sendiri dan biasanya diselesaikan di sekolah dengan baik, tidak sampai keluar karena kejadiannya disekolah dan dalam proses pendidikan, kecuali itu diluar.<br /><br />“Sebenarnya hal ini saya sanggap kemarin selesai, sayapun juga ingin ini diselesaikan dengan kekeluargaan bukan hal yang tidak mungkin sesuatu itu bisa kita usahakan dan semoga saja anak yang kita bina ini bisa sadar atas apa yang dilakukannya dan jadi anak yang baik, jangan sampai kita bela mati-matian nanti dilakukan lagi, jangan sampai nanti hal seperti itu dianggapnya benar,” pungkasnya. <strong>(phs)</strong></p>