Kasus Pencabulan di Melawi Meningkat

oleh

Kasus persetubuhan dan pencabulan terhadap anak di bawah umur di Melawi, mengalami masuk kategori tinggi. Hal itu di ungkapkan Kasat Reskrim Polres Melawi, Iptu Ketut Bagus PasekSudina. <p style="text-align: justify;">Ia mengatakan, data Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Melawi menyebutkan pada tahun 2016 kasus persetubuhan berjumlah 14 kasus, dan kasus pencabulan anak ddibawah umur terdapat 1 kasus. Sementara untuk ditahun 2017 hingga Agustus  ini, kasus persetubuhannya sebanyak 11, peencabulan sebanyak 2 kasus dan 1 kasus pemerkosaan. <br /> <br />Dari angka, kasus yang ditangani Polres hingga pertengahan tahun 2017 sudah nyaris melampaui jumlah total kasus serupa pada 2016. Ketut melansir, laporan persetubuhan anak di bawah umur yang diterima jajarannya mencapai 14 kasus dengan pencabulan satu kasus. “Semua kasus ini sudah melalui penyelidikan oleh kita. Kita mengenakan undang-undang perlindungan anak kepada para tersangka pelaku,” terangnya.<br /><br />Dua kasus yang terbaru di Agustus ini, kata Ketut, yakni yang dialami oleh anak berusia 16 tahun, sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya, red). Kasus ini dilaporkan oleh ibu kandungnya ke Polres Melawi, mengatakan bahwa anaknya sudah disetubuhi oleh pria berinisial WE (22)  tempat tinggal di Jl.Provinsi Nanga Pinoh – Kota Baru Km.4 Desa Kenual Kecamatan Nanga Pinoh.<br /><br />Tindak pidana yang dilakukan tersangka yakni melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain atau melakukan tipu muslihat, serangkaian kobohongan, atau membujuk untuk melakukan persetubuhan. <br /> <br />tersangka WE melakukan persetubuhan terhadap tersangka sebanyak 7 kali. Mulai dari bulan Desember 2016 sampai dengan tahun 2017, di rumah tersangka yang berada Km. 03 Jl. Propinsi Kota Baru Desa Kenual Nanga Pinoh, dan di bengkel tempat tersangka bekerja di Km. 5 Desa Tanjung Lay Kecamatan. Nanga Pinoh, serta di rumah korban di Dusun Belian Permai Desa Paal.<br /><br />Tersangka mengiming-ngimingi korban mengatakan cinta dan sayang kepada korban serta akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu hal sehingga korban mau melakukan hubungan badan dengan tersangka. Namun tersangka mengetahui jika umur korban masih di bawah umur, dan tersangka meninggalkan korban dengan alasan bahwa korban terlalu cemburuan. <br /><br />“Akibat perbuatannya itu, tersangka ddikenakan ancaman 15 tahun penjara,” ucapnya.<br /><br />Kemudian kasus yang keduanya dialami anak berusia 14 tahun, sebut saja namanya Mawar (bukan nama sebenarnya, red). Dimana Ia dipaksa atau diperkosa oleh seorang tersangka berusia 18 tahun lebih berinisial MS, yang melaporkannya kakek korban.<br /><br />Kronologis kejadiannya itu pada hari Senin tgl 31 Juli 2017 sekira jam 23.30 wib korban yang bekerja di sebuah rumah makan di pasar kuliner menelpon tersangka meminta untuk diantar pulang. Tersangkapun datang menjemput korban dilapangan kuliner Nanga pinoh. Namun bukannya membawa korban pulang, tersangka malah membawa korban kerumah tersangka di Dusun  Istana Desa Baru Kecamatan Nanga Pinoh. Disanalah tersangka meminta korban untuk berhubungan badan dengan cara mencekik dan menindih korban.atas perbuatan tersangka. <br /><br />Setelah itu korban pulang ke kenual seraya menangis-nangis. Terdengar dan menceritakan kejadian yang dialaminya kepada kakeknya. Sehingga kakek korban melaporkan kasus tersebut ke Polres Melawi guna tindak lanjut.<br /><br />“Tindak pidana melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, sebagaimana dimaksud dalam pasal 81 ayat (1) Undang – undang Republik Indonesia nomor 17 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang – undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Ancamannya 15 tahun penjara,” paparnya.<br /><br />Sementara itu, Kapolres Melawi, AKBP Ahmad Fadlin mengungkapkan sejak ia di lantik pada Mei lalu saja, ada kurang lebih dua kasus yang masuk. Kasus persetubuhan maupun pelecehan seksual pada anak dibawah umur. <br /><br />“Angka kasus ini tidak bisa dijadikan pertimbangan bahwa saat ini kasus melibatkan anak dibawah umur sedang tinggi. Ini biasa hanya musiman saja,” katanya.<br /><br />Kendati demikian, lanjut Fadlin, pihaknya tetap akan memproses laporan tersebut. Penanganan dan himbauan juga dilakukan terhadap pihak terkait. Dari kasus yang didapatkan, belum ada kekerasan seksual yang terjadi dalam lingkungan keluarga seperti yang banyak terjadi pada tahun lalu.<br />“Yang hubungan sedarah belum ada. Laporannya kebanyakan hubungan antar remaja,” katanya.<br />Khusus kasus persetubuhan anak di bawah umur, Fadlin menerangkan, kebanyakan berawal dari hubungan di luar nikah oleh para remaja. Menurutnya karakteristik kasus persetubuhan ini memang kebanyakan didasari perasaan suka sama suka.<br /><br />“Ini beda ama perkosaan yah. Kalau suka sama suka, biasa ada tahap perkenalan, tahap lanjut, ketemuan dan terjadilah. Memang kebanyakan dari pihak orang tua yang melaporkan. Anak bawah umur kan masih dibawah tanggung jawab orang tua,” katanya.<br /><br />Fadlin menegaskan, kasus ini tetap ditangani secara prosedural. Undang-undang yang diterapkan juga tetap secara maksimal. Dalam penyidikan, biasa tersangka akan dikenakan undang-undang perlindungan anak yang kemudian baru dijuntokan ke KUHP.<br /><br />“Nantinya dalam anev akan kita paparkan langkah-langkah, pengungkapan, proses berjalan, hambatan dan persoalan dalam penanganan kasus akan kita gelar,” katanya.<br /><br />Kini, lanjut Fadlin, seluruh tersangka kasus persetubuhan maupun pelecehan seksual pada anak sudah dilakukan penahanan hingga tuntasnya proses penyidikan. Dirinya pun berharap adanya peran serta orang tua untuk mengawasi dan membimbing anak di rumah. (KN)</p>