Pemerintah Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, mengadakan lomba merangkai "pokok telur" yang diikuti sepuluh desa di kecamatan itu guna melestarikan salah satu budaya lokal masyarakat melayu. <p style="text-align: justify;"><br />"Kita merasa perlu melestarikan buadaya pembuatan ‘pokok telur’ ini, karena selain memiliki nilai budaya juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat," kata Camat Sungai Raya Bahtiar di Sungai Raya, Jumat.<br /><br />Menurut dia, dalam setiap kegiatan besar masyarakat melayu seperti pernikahan, gunting rambut, khataman Al Qur’an dan perayaan lainnya, "pokok telur" selalu menjadi kebutuhan utama.<br /><br />Bahkan, kata dia, saat ini bentuknya semakin bervariasi. "Jika ini ditangkap dengan baik oleh masyarakat, tentu menjadi peluang usaha baru yang sangat menjanjikan. Makanya kita menggelar kegiatan ini," katanya.<br /><br />"Pokok telur" berbentuk hiasan tangkai yang diberi bermacam pernak-pernik dan dapat digunakan untuk meletakkan telur.<br /><br />Menurut dia, lomba tersebut sebagai ajang kreativitas ibu-ibu yang ada di 10 desa itu sekaligus mengangkat kembali adat budaya daerah.<br /><br />"Bayangkan saja kalau ini terus dikembangkan. Harganya saja kalau di Pontianak bisa mencapai Rp400 ribu-an," ungkapnya.<br /><br />Dengan adanya perlombaan itu menurut dia hendaknya dapat menjadi motivasi bagi kaum ibu yang lainnya untuk berlomba-lomba menciptakan pokok telur sesuai dengan kreativitas seninya masing-masing sehingga ada daya tarik.<br /><br />"Kita dari pihak kecamatan akan berupaya membantu mempromosikan dan menyebarkan informasi tentang kreativitas pokok telur ini kepada masyarakat luas dan pihak-pihak yang berkepentingan sehingga dapat menjadi perhatian," katanya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>














