Kelompok Ternak Makroman Manfaatkan Kredit Rp200 Juta

oleh

Kelompok Ternak Harapan Sejahtera di Desa Makroman, Samarinda, Kaltim, memanfaatkan kredit dari Bank Pembangunan Daerah (BPD) setempat rata-rata senilai Rp150 juta hingga Rp200 juta per tahun. <p style="text-align: justify;">"Kelompok ternak di Desa Makroman itu sudah empat tahun ini memanfaatkan pinjaman dari BPD Kaltim dengan program Kredit Ternak Sejahtera. Kini peternakan sapi di desa itu terus berkembang," kata Plt Kepala Dinas Peternakan Provinsi Kaltim Dadang Sudarya di Samarinda, Kamis.<br /><br />Menurutnya, perkembangan ternak sapi di Makroman berawal dari bantuan ternak dari Pemprov Kaltim berupa sapi Bali dan Brahman Cross, yakni untuk sapi perbibitan sebanyak 46 ekor, tetapi karena peternaknya ulet, maka kini sudah mencapai 200 ekor lebih.<br /><br />Setelah dia memantau perkembangan sapi dan cukup berhasil, kemudian pada 2012 pihaknya memberikan bantuan sapi Brahman Cross bunting sebanyak 15 ekor agar populasinya terus bertambah.<br /><br />Dari 15 ekor itu, kemudian sembilan ekor di antaranya sudah melahirkan dan satu ekor keguguran. Sementara satu ekor masih bunting dan empat ekor lainnya belum bunting.<br /><br />Di kandang milik kelompok ternak itu, selain dipelihara sapi perbibitan, ada pula sapi penggemukan dengan bantuan kredit BPD Kaltim yang dilakukan sejak empat tahun terakhir sehingga mengalami perkembangan. Kelompok ini merupakan salah satu kelompok ternak yang berhasil di Samarinda.<br /><br />Terpisah, Ketua Kelompok Ternak Harapan Baru Desa Makroman, Junaidi mengatakan bahwa beternak sapi seperti yang digelutinya ini berawal dari bantuan Pemprov sebanyak 11 ekor sapi Brahman dan 35 ekor sapi Bali pada 2004.<br /><br />Dari jumlah itu, tiap tahun perkembangan populasinya mencapai 70 persen sehingga saat ini sapi di kemlompok itu sudah mencapai lebih 200, sedangkan khusus sapi miliknya terdapat 40 ekor.<br /><br />Dalam mengembangkan usahanya itu, dia menagkui bahwa cukup terbantu dengan adanya pinjaman kredit dari BPD Kaltim yang sebesar Rp150 juta hingga Rp200 juta per tahun.<br /><br />Dia juga mengakui tidak berani meminjam kredit lebih tinggi dari nilai itu, padahal tim penyelia dari BPD Kaltim memberikan tawaran lebih tinggi hingga mencapai Rp500 juta.<br /><br />Ketidakberanian meminjam terlalu banyak itu karena dia khawatir harga sapi turun sehingga dia akan merugi karena harus mengembalikan cicilan yang tinggi seiring tingginya pinjaman yang digunakan.<strong> (das/ant)</strong></p>