Kemarau, Krisis Ekonomi Landa Masyarakat Pedalaman

oleh

Kemarau yang kembali melanda Kabupaten Sintang khususnya dan Kalbar umumnya menimbulkan gejolak ekonomi pada masyarakat pedalaman. <p style="text-align: justify;">"Di pedalaman Serawai, Ambalau dan mungkin juga di pedalaman lainnya, masyarakat sedang mengalami krisis. Kenaikan harga mencapai 30 per sen lebih,"ungkap Genedie, Ketua Komisi A DPRD Sintang  pada Selasa (22/7/2014) seusai siding Paripurna.  <br /><br />Saat ini menurut legislator Dapil VI ini, harga BBM jenis premium di dua kecamatan tersebut berkisar antara Rp 12-15 ribu per liternya. Tabung LPG 3 kg dieceran di jual dengan harga Rp 35 ribu. <br />"Ini faktor kondisi alam, kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa,"ujarnya.<br /><br />Meski begitu menurutnya karena kemarau merupakan kejadian alam yang hampir terjadi setiap tahun. Oleh karena itu menurutnya mesti ada solusi alternatif untuk mengantisipasinya.<br /><br />Pendistribusian barang hendaknya tetap bisa lancar, sehingga masyarakat pedalaman tidak semakin susah. Apalagi saat ini jalur darat menuju Serawai dan Ambalau masih terbuka.<br /><br />Ia justru khawatir dengan stok barang di Sintang, karena pasti berdampak pada pasokan ke pedalaman.  <br /><br />"Jangan sampai masyarakat di pedalaman tidak makan, tak menikmati gula, kopi dan  lampu mati. Karena masyarakat sudah mengalami gagal panen 2 kali. Sekarang saja, mereka di pedalaman mereka sudah makan makanan seperti  sebelum kita merdeka,"bebernya. <br /><br />Kondisi itu menurut Genedie semakin parah dengan rendahnya harga karet di pasaran. Meski hanya sebagai penghasilan tambahan, namun lantaran musim kemarau masyarakat tidak bisa melakukan pekerjaan utama yaitu beladang. <strong>(ek/das)</strong></p>