Kemarau, Masyarakat Alami Krisis Air Bersih

oleh

Masyarakat di perhuluan Sintang khususnya jalur Ketungau mengalami krisis air bersih pada setiap musim kemarau tiba. Tak terkecuali kemarau tahun ini. <p style="text-align: justify;">Akibatnya untuk memenuhi kebutuhan air bersih, masyarakat harus rela membeli air kemasan atau air isi ulang. <br /><br />Camat Ketungau Tengah, Selimin, SE, M. Si saat dikontak melalui telpon selulernya membenarkan bahwa sebagian masyarakatnya mengalami kesulitan mendapatkan air bersih lantaran kemarau. <br /><br />“Air sungai Ketungau ini sekarang tidak layak untuk dikonsumsi lagi. Hanya bisa digunakan untuk mandi, cuci dan kakus (MCK). Sedangkan untuk kebutuhan konsumsi, masyarakat terpaksa harus membeli air kemasan,”ujarnya pada Jumat (29/06/2012). <br /><br />Selain tak layak konsumsi, debit air sungai Ketungau juga telah surut lantaran tak pernah mendapat kucuran air hujan. Lantaran debit air berkurang, sungai menjadi lebih dangkal dan airnya pun keruh. <br />“Kalau untuk minum sudah tidak layak. Airnya sangat keruh. Apa lagi ada aktifitas Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI). Saya pikir ini sangat membahayakan kesehatan masyarakat,jelasnya.<br /><br />Selain membeli air kemasan, warga yang tinggal di ibukota kecamatan dikatakan mantan Sekcam Ketungau Hulu ini masih bisa mendapatkan layanan air bersih dari PDAM setempat. Kini menurutnya pemandangan antri air bersih telah menjadi bagian sehari-hari masyarakat yang ada Nanga Merakai. <br /><br />Namun menurutnya pelayanan dari PDAM belumlah maksimal. Apalagi system penampungan yang digunakan oleh PDAM setempat masih dengan menggunakan model tandonan, bron caftring (grafitasi), sehingga tergantung kepada curah hujan. <br />“Warga terpaksa ngantri. Digilir dari rumah ke rumah. Rumah yang terlayanipun tidak bisa banyak. Hanya beberapa rumah saja perhari,”kata Selimin.<br /><br />Untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari, menurutnya warga harus rela membeli air minum kemasan isi ulang. Pergalon air tersebut dihargai Rp 10 ribu. Agar krisis air tidak kembali terulang di tahun yang akan datang, pihak kecamatan telah mengusulkan kepada pemerintah kabupaten agar segera dibangun Instalasi Penyaluran Air Bersih (IPAL). <br /><br />Usulan tersebut menurutnya sudah di ajukan kepada bupat. Ia pun berharap usulan itu bisa ditindaklanjuti segera. “Air bersih itukan kebutuhan mendasar yang menjadi tanggungjawab negara. Mau tidak mau pemerintah harus merespon hal ini. Masak sudah puluhan tahun kita merdeka, masyarakat masih sulit dapat air bersih,”ujarnya. <br /><br />Hal yang sama juga diungkapkan oleh Zaenur, warga Jln.Akcaya II Sintang yang juga pelanggan PDAM Sintang. Menurutnya sudah skeitar sebulan ini, ia tak bisa lagi menggunakan air bersih PDAM Sintang untuk kebutuhan memasak dan air minum. <br /><br />“Airnya sangat keruh dan tentu sangat tidak layak untuk kebutuhan masak apalagi minum. Untuk kebutuhan air bersih, sekarang terpaksa kita beli air bersih dari Baning,”katanya.<br /><br />Air PDAM sangat keruh dan baru bisa jernih setelah diendapkan beberapa jam. Itupun masih mengkhawatirkan bila harus digunakan untuk memasak. <br /><br />Direktur PDAM Sintang, Hadrianus Gana Suka ketika ditemui mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Merakai dan Ketungau pada umumnya. Minimnya peralatan yang dimiliki PDAM menjadi alasan utamanya. <br /><br />Ia juga membenarkan bahwa PDAM yang ada di daerah Ketungau memang masih bergantung pada curah hujan untuk melayani air bersih kepada masyarakat. <br /><br />Hal ini menurutnya disebabkan karena kondisi hutan yang sudah berubah dan berakibat pada akibatnya daya tampung air semakin minim. Ia pun mengatakan tidak ada yang bisa diupayakan apalagi dimusim kemarau seperti saat ini. <strong>(ast)</strong></p>