Kemdikbud Kembangan Riset Kebijkan Lebih Futuristik

oleh

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan berupaya menjawab kebutuhan dan tantangan yang dihadapi dengan mengembangkan riset kebijakan yang bersifat responsif, antisipatif dan futuristik. <p style="text-align: justify;">Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan berupaya menjawab kebutuhan dan tantangan yang dihadapi dengan mengembangkan riset kebijakan yang bersifat responsif, antisipatif dan futuristik.<br /><br />Kepala Balitbang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr Khairil Anwar Notodiputro di Bogor, Sabtu, mengatakan, riset kebijakan di lingkungan Kemdikbud perlu dikembangkan lebih responsif, antisipatif dan futurustik untuk menjawab tantangan dan kebutuhan bangsa di bidang pendidikan dan kebudayaan.<br /><br />"Ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan kekinian dan masa mendatang," terang Prof Khairil yang menggagas "Lokakarya Nasional Penajaman Peran dan Fungsi Balitbang dalam rangka Reformasi Birokrasi", pada Sabtu-Senin di Hotel Salak, Kota Bogor.<br /><br />Lokakarya tersebut rencananya akan dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Pendidikan Nasional dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Prof Dr Musliar Kasim, mewakili Mendikbud Prof Dr M Nuh.<br /><br />Prof Khairil yang juga mantan Dekan Sekolah Pascasarjana IPB menuturkan, lokakarya tersebut ditargetkan dapat memperkuat gerakan reformasi birokrasi yang tengah digalakkan di tubuh Kemdikbud.<br /><br />Rekomendasi yang dihasilkan dari diskusi panjang lokakarya ini menjadi masukan guna perbaikan fungsi dan peran Balitbang ke depan, sehingga mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi sebagai petunjuk jalan bagi transformasi dunia pendidikan dan kebudayaan.<br /><br />Sementara itu Ketua Panitia Lokakarya Nasional Penajaman Peran dan Fungsi Balitbang Kemdikbud, Subijanto menambahkan, Balitbang memiliki peran sangat strategis karena fungsinya tidak terbatas pada penelitian dan pengembangan seperti yang dilakukan selama ini.<br /><br />Fungsi-fungsi Balitbang, lanjut Subijanto, perlu lebih dipertajam lagi agar lebih bersifat preventif.<br /><br />Yaitu dengan me-review dan mengoreksi proses yang berjalan untuk perbaikan kinerja instansi baik instansi Balitbang dalam lingkup kecil maupun instansi Kemdikbud dalam lingkup yang lebih besar; membangun sistem untuk memastikan berjalannya proses pencapaian keunggulan; serta membangun budaya unggul.<br /><br />Dikemukakannya, lokakarya ini menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu Prof Dr Sofian Effendi (Tim RBN Wakil Presiden RI), Dr dr Trihono, M.Sc (Kepala Balitbang Kementerian Kesehatan), Prof Dr Daoed Jeosoef (Mantan Mendikbud), serta pembahas Prof Ir Lilik Hendrajaya, M.Sc, PhD (Guru besar FMIPA IPB), Dra. Nina Sardjunani, MA (Bappenas), dan Prof Dr Syawal Gultom, M.Pd (Kepala Badan PSDM & PMP Kemdikbud).<br /><br />Lokakarya diikuti 187 orang, yang terdiri dari Komisi X DPR DPD, Pakar Pendidikan, Praktisi Pendidikan, Pejabat Kemdikbud, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Sosial, BPPT, Bappenas Kepala Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota, Dunia Industri, dan lembaga penelitian independen.(Eka/Ant)</p>