Selama ini Indonesia masih belum terbebas dari impor daging sapi. Sebagai gambaran tingginya impor daging sapi ini terlihat dari terus meningkatnya kiriman daging sapi dari luar negeri. Pada tahun 2009 Indonesia mengimpor daging dan bakalan yang mencapai lebih dari 300.000 ton dan ada indikasi kecenderungan yang semakin meningkat (Ditjenak 2010). <p style="text-align: justify;">Pada tahun 2010 produksi daging nasional 223.332 ton, sementara itu kebutuhan nasional 526.864 ton dan pada tahun 2011 pemerintah mengalokasikan impor sapi 500 ribu ekor dan 93 ton daging sapi. Dilihat dari data FAO (2006), konsumsi daging di Indonesia (4,5 kg/kap/tahun) masih rendah dibandingkan dengan beberapa Negara lain seperti Malaysia (38,5 kg/kap/tahun); Thailand (14 kg/kap/tahun) dan Filipina (8,5 kg/kap/tahun).<br /> <br />Dari data di atas menggambarkan bahwa terjadi kesenjangan konsumsi daging di masyarakat, dan belum terpenuhinya swa sembada daging. Banyak persoalan yang membelit di sekitar kebijakan impor daging ini. Sementara itu daging dari luar negeri juga menuai banyak masalah, terutama masalah penyakit sapi gila, kuku dan mulut, serta virus antraks.<br /><br />Di sisi lain, Indonesia memiliki daerah unggulan untuk dijadikan pusat daging nasional. Wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur merupakan kawasan pembibitan sapi sejak lama. Sayangnya produksi peternakan di daerah tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan daging secara nasional, setidaknya mendekati angka ideal. <br /><br />Itu semua disebabkan adanya beberapa aspek yang belum mendukung terciptanya pusat terpadu peternakan dan daging nasional di wilayah tersebut. Beberapa aspek ini meliputi teknologi insemenasi, pakan ternak berkualitas dan mencukupi, pembibitan, serta teknologi biogas untuk menciptakan industri peternakan ramah lingkungan.<br /><br />Salah satu cara agar kebutuhan daging secara nasional bisa mendekati angka ideal adalah dengan dukungan iptek, melalui peningkatan kemampuan SDM termasuk juga kapasitas para peternak-petani, pengembangan teknologi untuk perbaikan mutu melalui metoda inseminasi buatan, embrio transfer atau rekayasa genetika, pengembangan teknologi untuk menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun dengan teknologi pakan murah dan pengembangan kawasan terpadu/klaster inovasi peternakan-pertanian.<br /><br />Untuk mewujudkan kawasan terpadu/klaster inovasi tersebut, Kementerian Riset dan Teknologi telah bekerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTB untuk membangun pilot project di kawasan Banyumulek, Lombok Barat. Kawasan ini akan dikembangkan menjadi kawasan terpadu peternakan pertanian dengan berbagai aktivitas seperti produksi dan pemeliharaan sapi, pemotongan hewan, industri pakan, industri pupuk organik, dan pelatihan. <br /><br />Pembangunan kawasan Banyumulek merupakan perwujudan SIstem Inovasi Daerah (SIDa) berbasis kawasan dengan memanfaatkan sumber daya/potensi lolal. Selain itu, pengembangan SIDa berbasis kawasan di Banyumulek juga akan melibatkan sektor industri kreatif, khususnya pengembangan industri gerabah yang merupakan salah satu kerajinan andalan Provinsi NTB. <br /><br />Pengembangan aktivitas SIDa di kawasan ini, pada tahap awal akan melibatkan beberapa pemangku kepentingan antara lain Kementerian Riset dan Teknologi, LIPI, Bappeda Provinsi NTB, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, Universitas Mataram, PT. Karya Anugrah Rumpin dan PT. Gerbang NTB Emas. Kerjasama dari seluruh pemangku kepentingan di kawasan ini telah dituangkan dalam suatu Perjanjian Kerja Sama yang akan ditandatangani pada Peluncuran SIDa NTB, pada 25 Februari 2012.<strong>(phs/release Kemenristek)</strong></p>















