Kerajinan HSU Coba Tembus Pasar Nasional

oleh

Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara mencoba memasarkan hasil kerajinan usaha mikro kecil dan menengah di daerahnya untuk menembus pasar nasional. <p style="text-align: justify;">Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Perindustrian Dinas Koperasi dan Perdagangan HSU Sri Mainur dihubungi via telepon disela acara persiapan pameran di Gedung Smesco UKM Jakarta Selatan, Selasa (15/03/2011).<br /><br />"Kita selalu berupaya mengenalkan potensi andalan kita terutama kerajinan ke pasar nasional bahkan kalau memungkinkan ke pasar global," katanya.<br /><br />Menurut dia, potensi kerajinan HSU pada dasarnya cukup besar dan memungkinkan untuk bisa dipasarkan ke pasar nasional maupun global.<br /><br />Beberapa jenis kerajinan yang dihasilkan sekitar 24 ribu perajin tersebut antara lain, berbagai macam kerajinan dari purun mulai dari tikar, tas, dompet keranjang baju kotor dan lainnya.<br /><br />Selain itu juga kerajinan dari rotan terutama lampit rotan dan beberapa jenis kerajinan lainnya.<br /><br />"Selama ini pemasaran berbagai macam kerajinan tersebut masih untuk memenuhi pasar lokal, kondisi tersebut membuat perajin malas untuk bisa melakukan inovasi," katanya.<br /><br />Dengan demikian, kata dia, kreativitas perajin menjadi kurang terpacu selain karena juga keterbatasan sumber daya manusia yang masih cukup lemah.<br /><br />Meningkatkan kualitas tersebut, kata dia, pemerintah daerah telah mendatangkan perajin pendamping dari Bandung dan Yogyakarta untuk membantu pengembangan desain dan menjaga kualitas bahan baku.<br /><br />Wakil Ketua Dekranasda HSU Yuli Risnadi mengatakan selama ini perajin masih mengandalkan peralatan manual untuk proses pembuatan kerajinan.<br /><br />Kondisi tersebut membuat kuantitas dan kualitas kerajinan yang dihasilkan belum maksimal. Selain itu, perajin kurang kreatif sehingga sulit untuk mengikuti perkembangan mode di pasaran.<br /><br />"Selama ini untuk desain perajin masih sangat tergantung pada dekranasda dan pemerintah, bila disuruh membuat model yang ditentukan baru mereka mengikuti," katanya.<br /><br />Dia mengatakan, selebihnya, perajin akan membuat kerajinan dengan desain yang ada saat ini.<br /><br />Selain itu, sikap mental perajin juga masih harus mendapatkan perhatian, karena mereka beranggapan dengan hasil yang ada sudah bisa dijual, sehingga tidak perlu mengembangkan kualitas dan lainnya.<br /><br />Sebelumnya, HSU dikenal sebagai daerah pengekspor lampit terbesar di Indonesia ke berbagai negara, seperti ke China dan Jepang.<br /><br />Pada 1987 HSU mampu memproduksi lampit hingga 800 ribu meter kubik per tahun dengan total 600 unit usaha. <br /><br />Pada 2010, usaha tersebut merosot tajam dan produksinya tersisa 40 ribu M3 dengan total perajin 30 unit saja. Terpuruknya industri lampit HSU, membuat kerajinan HSU kini sulit menembus pasar nasional hingga global. <strong>(phs/Ant)</strong></p>