Kerajinan Purun Kalsel Diminati Di Belanda

oleh

Berbagai produk kerajinan dengan bahan baku purun asal Kabupaten Hulu Sungai Utara dan beberapa daerah di Kalimantan Selatan cukup diminati oleh warga Belanda. <p style="text-align: justify;">Instruktur dan desainer kerajinan dari Jogja Cornelia Lina Meiliasari di Amuntai, Jumat, mengatakan potensi pasar ekspor kerajinan purun masih cukup besar.<br /><br />"Saya pernah iseng membawa produk kerajinan HSU jenis topi purun ke Negeri Belanda dalam rangka menghadiri produk kerajinan. Topi tersebut saya beli dengan harga Rp3500 per buah, sesampainya di Negeri Kincir Angin topi itu laku keras dengan harga Rp50 ribu per biji," katanya.<br /><br />Hal tersebut, kata dia, menunjukan prospek produk kerajinan yang ada di Kabupaten HSU sangat menjanjikan untuk diekspor asalkan para perajin meningkatkan hasil dan kualitas produk kerajinan mereka.<br /><br />Menurut Cornelia, harga produk kerajinan di HSU sangat murah, karena desain dan motifnya yang kurang berkembang, "Sejak pertama kali saya berkunjung ke desa ini pada 2007 desain dan motifnya tidak mengalami perubahan yang berarti" katanya.<br /><br />Diharapkan kedatangan Cornelia ke HSU mampu memberikan pencerahan dan pelatihan bagi para perajin sebagaimana yang pernah dilakukan sebelumnya, untuk perajin rotan dan eceng gondok.<br /><br />Sebelumnya, upaya Dikuperindag dengan menggelar pelatihan di sejumlah sentra kerajinan di HSU mulai membuahkan hasil, diantaranya perajin eceng gondok di Kecamatan Paminggir kini mulai mengalami kenaikan omzet penjualan.<br /><br />"Jika dulu pendapatan mereka berkisar Rp300 ribu kini omzet para perajin sudah mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta," tutur Cornelia.<br /><br />Karena itu ia optimistis para perajin purun di Desa Palimbang Sari akan mampu mengikuti jejak perajin yang sudah terlebih dahulu mendapatkan pelatihan dan mulai menikmati hasilnya.<br /><br />"Silahkan para perajin terus memenuhi pesanan dari pihak perusahaan namun harus juga mengembangkan kemampuan mereka agar bisa mandiri memproduksi dan memasarkan hasil produk kerajinan mereka" pungkasnya.<br /><br />Pengembangan kerajinan purun di Kalsel kini juga mendapatkan perhatian dari perbankan, berdasarkan hasil kajian dan analisis Bank Indonesia yang disampaikan pada forum diskusi tentang lending model kerajinan purun di Bank Indonesia, kerajinan secara turun temurun tersebut kini cukup menjanjikan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.<br /><br />Kepala Divisi Ekonomi Moneter KPW BI Wilayah II Kalimantan, Triatmo Doriyanto di Banjarmasin, mengatakan BI telah melakukan penilitian ke empat kabupaten penghasil purun terbesar di daerah ini.<br /><br />Empat Kabupaten tersebut, yaitu Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) yang kini memiliki sebanyak 12.337 unit usaha purun dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 22.399 orang, selanjutnya Kabupaten Tapin sebanyak 1.320 unit usaha dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 2.601 orang.<br /><br />Selain itu Kabupaten Tabalong sebanyak 260 unit usaha dengan jumlah tenaga kerja 480 orang, dan terakhir yaitu Kabupaten Barito Kuala yang perajinnya tersebar hampir di seluruh wilayah kecamatan di kabupaten tersebut.<br /><br />"Banyaknya perajin purun dan potensi pasar yang masih sangat luas, membuat BI ingin menjadikan kerajinan ini sebagai simbol daerah sebagaimana layaknya sasirangan," katanya.<br /><br />Menurut dia, peluang pemasaran kerajinan anyaman purun di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten masih cukup besar, bahkan di tingkat nasional sekalipun.<br /><br />"Apalagi tas purun bentuk kotak dan bundar memberikan nuansa inovasi untuk terus bisa dikembangkan di daerah ini," katanya.<br /><br />Purun adalah tanaman seperti rumput liar yang hanya tumbuh di daerah rawa atau daerah lebak, sehingga potensi tanaman ini cukup besar di Kalsel sehingga layak untuk terus dikembangkan. <strong>(phs/Ant)</strong></p>