Keraton Tayan Gelar Tradisi Mandi Bedil-Perang Ketupat

oleh

Keraton Tayan akan menggelar tradisi mandi bedil kerajaan dan perang ketupat ke-II pada satu muharram atau tanggal 25 hingga 30 Oktober 2014, kata Raja Tayan XIV Gusti Yusri. <p style="text-align: justify;">"Mandi bedil keraja’ (kerajaan) dan perang ketupat sebagai pegelaran seni dan budaya Keraton Tayan dalam rangka meningkatkan industri pariwisata masa depan Kalimantan Barat dan Indonesia umumnya," kata Gusti Yusri di Pontianak, Senin.<br /><br />Yusri menjelaskan mandi bedil kerajaan adalah sebuah ritual adat yang sudah berlangsung lama atau sejak Kerajaan Tayan berdiri di zaman Raja Pertama Gusti Lekar yang beristrikan Encik Periuk.<br /><br />"Tetapi sempat tidak dilaksanakan, dan terakhir dilakukan tahun 1982, kini dalam dua tahun terakhir kembali dilakukan dalam rangka melestarikan seni dan budaya Keraton Tayan dan membangkitkan industri pariwisata Tayan," ungkapnya.<br /><br />Menurut dia zaman dahulu bedil kerajaan juga bisa dimandikan selain satu Muharram, seperti bila negeri dilanda kekeringan, atau diserang wabah penyakit, serta bala bencana, yang biasanya ada isyarat mimpi yang dialamatkan kepada raja atau pemimpin sesepuh negeri.<br /><br />Kemudian air dari mandian bedil kerajaan itu, dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit manakala ada wabah, atau digunakan untuk memupuk tanaman padi yang juga sebagai air tolak bala, katanya.<br /><br />"Mandi bedil kerajaan bisa dilakukan di dalam keraton dan bisa juga di luar, tetapi tempatnya ditentukan, yakni di Muara Sungai Tayan persis diujung Tanjung (salah satu situs sejarah Kerajaan Tayan," ujarnya.<br /><br />Sementara itu, perang ketupat, yakni rangkaian dari mandi bedil kerajaan. Dinamakan perang ketupat, yakni sebagai bentuk simbolik tolak bala yang kemungkinan melanda negeri (Kerajaan Tayan).<br /><br />"Bentuknya saling melemparkan ketupat tolak bala, antara warga di pinggir sungai dengan warga yang menggunakan motor air, yang diselenggarakan di Muara Sungai Tayan hingga menuju Istana Keraton Pakunegara Tayan di Desa Pedalaman yang berjarak sekitar satu kilometer dari situ kerjaan itu," ujar Yusri.<br /><br />Ketupat yang digunakan untuk perang ketupat, yakni hasil penyerahan dari warga sebanyak 21 buah tiap rumah tangga secara sukarela. "Ketupat tolak bala tersebut bentuknya berbeda dengan ketupat pada umumnya. Ketupat yang diserahkan itu, penyisihan dari hasil panen dan hanya 21 buah setiap kepala keluarga," kata Yusri yang biasa di panggil Abah tersebut.<br /><br />Dalam kesempatan itu, perang ketupat tersebut melibatkan seluruh unsur masyarakat, tanpa membedakan suku, agama, dan menjadi tradisi bersama, termasuk tamu yang akan hadir dalam festifal seni dan budaya Keraton Tayan," katanya.<br /><br />Dalam tradisi perang ketupat tersebut, ada gendering yang ditabuh warga Suku Dayak di Dusun Entangi, Desa Empetai yang sudah dilakukan sejak turun temurun menjadi bagian dari tradisi perang ketupat yang merupakan simbolik dari tradisi kearifan lokal.<br /><br />"Selain itu, kami juga menggelar berbagai perlombaan seni dan budaya yang jumlahnya sekitar 21 perlombaan. Dari itu ada sifatnya yang khusus warga dari lima kecamatan, dan terbuka untuk umum, seperti lomba pangkak gasing, ngayam pukat, sumpit, sampan tradisional, lomba pemilihan bujang-ayang (bujang dan dara), lomba saprahan, pembuatan kue tradisional dan lain sebagainya," katanya.<br /><br />Keraton Tayan sudah mengundang 12 kerajaan yang ada di Kalbar untuk memeriahkan festival seni dan budaya Keraton Tayan, dan juga mengundang kerajaan dari Malaysia, Brunai Darussalam, sementara dari Kerajaan Thailand hingga saat ini belum ada kepastian, apakah akan hadir atau tidak, kata Yusri.<br /><br />"Kami akan menjadikan kalender tahunan tradisi mandi bedil kerajaan dan perang ketupat, dalam mendongkrak industri pariwisata Tayan, dan Kalbar umumnya," kata Gusti Yusri. <strong>(das/ant)</strong></p>