Ketersediaan Listrik di Kaltara Cukup

oleh

Tim Kunker Komisi VI DPR RI dipimpin Wakil Ketua Azam Azman Natawijana meninjau PLTD/G Gunung Beluh Tarakan, Selasa (20/12’2016). Kunjungan ini dijadikan kesempatan untuk memberikan solusi atas permasalahan listrik di Tarakan. <p style="text-align: justify;">Anggota Komisi VI Bambang Haryo Soekartono, mengatakan ketersediaan listrik di wilayah Kaltara terbilang cukup. Persediaan listrik sekarang mencapai 125 MW, namun yang digunakan baru mencapai 60 MW di seluruh Kaltara.<br /><br />Menurutnya, Kaltara juga sudah mengantisipasi ketersediaan listrik dengan menumbuhkan wilayah industri. “Industri yang akan dibangun sangat membutuhkan energi listrik. Yang baru kami dengar sudah ada ketersediaan listrik sebesar 9.000 MW dengan tenaga hydro atau air yang diusahakan oleh PLN bersama dengan pihak swasta untuk merealisasikan kebutuhan listrik,” ujarnya.<br /><br />Politisi Partai Gerindra ini mengakui akan terus memantau PLN terkait elektrifikasi di wilayah Kaltara, lantaran hingga saat ini baru sekitar 65 persen warganya yang sudah teraliri listrik. Dalam dua tahun ke depan, politisi asal Dapil Jawa Timur berharap pemenuhan aliran listtrik kepada seluruh warga Tarakan akan segera rampung menjadi 100 persen. <br /><br />“Elektrifikasi hingga saat ini masih menjadi tugas PLN. Kami juga sudah memprioritaskan listrik kepada Tarakan karena Tarakan sudah menjadi pusat perekonomian dan pelayanan PLN (Persero) harus jauh lebih baik dari sebelumnya, serta tidak ada lagi pemadaman listrik,” jelasnya. <br /><br />Disinggung tentang transmisi PLN ke pusat, politisi Partai Gerindra ini berharap harganya harus lebih murah. “Kalau anak (perusahannnya) pelayanan bisa bagus, bapaknya juga harus lebih bagus. Kan tadinya Rp 1.300,- atau 11 sen, itu saya rasa nasional, jadi diharapkan tidak sering mati hidup lagi,” ucapnya.<br /><br />Terkait lebih mahalnya harga gas dibanding baru bara, Komisi VI akan terus mendorong PLN untuk bisa mengusahakan bahan bakarnya. Karena Indonesia adalah penghasil gas terbesar, seharusnya harganya bisa lebih murah.<br /><br />General Manager PLN Kaltimra (Kalimantan Timur, Kalimantan Utara), Tohari Hadiat mengaku bahwa seringnya listrik mati hidup di Tarakan bukan masalah mesinnya, tapi bahan bakarnya. “Siapa yang bisa menjamin gas yang keluar dari bumi itu lancar terus,” ujarnya.<br /><br />Untuk itu Tohari berusaha menyiapkan bahan bakar alternatif kedua, yaitu solar. Namun, karena solar lebih mahal maka Tohari akan berusaha menambah mesin. “Bahan bakar gas tetap akan jadi prioritas karena lebih murah, tapi jika tidak ada ya kita pakai solar saja. Saya juga berharap agar penyediaan listrik di Tarakan tidak akan berkurang dan selalu mencari solusi yang ada,” tutupnya.(iw)<br /><br />Sumber: http://www.dpr.go.id</p>