Komisi Penyiaran Indonesia

oleh

Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Idy Muzayyad menyatakan kebebasan pers saat ini harus dibarengi dengan tangung jawab dari pers itu sendiri, atas produk jurnalistik yang mereka keluarkan. <p style="text-align: justify;">"Karena sudah jelas diatur dalam UU Penyiaran, bahwa kebebasan untuk kepentingan publik, bukan kebebasan sebablas-bablasnya, tetapi kebebasan yang bertanggungjawab," kata Idy Muzayyad di Pontianak, Kamis.<br /><br />Ia menjelaskan adanya kritik dari masyarakat terhadap kebebasan pers yang sudah kebablasan, itu terjadi karena profesionalisme para pekerja media, seperti sumber daya manusia para wartawannya perlu ditingkatkan agar bekerja sesuai dengan prinsip dan etika jurnalistik yang ada.<br /><br />"Prinsip dan kode etik jurnalistik tersebut, seperti keberimbangan, berlaku adil, tidak boleh melakukan penghakiman, yang harus menjadi pedoman dalam pekerja media menjalankan kerja jurnalistiknya," ujarnya.<br /><br />Sehingga harus seimbang antara kebebasan dan tanggung jawabnya. KPI berupaya dalam mencegah hal itu, seperti bekerjasama meningkatkan kompetensi dan kapasitas pekerja media, berkomunikasi dengan pemilik media elektronik agar mengingatkan, bahwa frekuensi ini bukan milik mereka, tapi milik publik.<br /><br />"Kami juga mengawasi, terkait pelanggaran yang dilakukan, hingga memberikan teguran berupa sanksi," ujarnya.<br /><br />Dalam kesempatan itu, isi dari media yang disampaikan tergantung dari tingkat SDM para pekerja medianya, kata Idy.<br /><br />"Moment Pilpres moment ujian, faktanya beberapa media terbukti memihak salah pada satu calon, sehingga keberpihakan itu meminggirkan kode etik jurnalistik. Regulasi kedepannya harus diatur lebih tepat," ungkapnya.<br /><br />Sementara itu, Pengamat Pendidikan dari Universitas Tanjungpura DR Aswandi mengajak pemilik media agar menyampaikan informasi tentang kebenaran yang diperlukan oleh masyarakat, untuk kebaikan, dan harus bertanggungjawab.<br /><br />"Jangan sekali-kali media malah menyampaikan sebaliknya, karena dampaknya cukup besar sekali. Karena masyarakat cenderungnya meniru apa yang disampaikan oleh produk jurnalistik, termasuk apa yang mereka tonton di televisi," ujarnya.<br /><br />Menurut dia, saat ini banyak sekali acara-acara sinetron yang di tayangkan televisi swasta yang tidak mendidik sehingga tidak layak untuk ditonton masyarakat.<br /><br />"Saya mengajak masyarakat agar lebih cerdas dalam memilih acara televisi, terutama bagi anak-anak sehingga tidak berdampak bagi tumbuh dan kembang anak kedepannya," kata Aswandi. <strong>(das/ant)</strong></p>