Kompas Borneo Gandeng Pemda Bidik Tanjung Baung Jadi Daerah Ekowisata

oleh

Kompas Borneo Sintang bersama WWF mengandeng pemerintah kabupaten Sintang untuk mengembangkan potensi wisata di daerah Tanjung Baung kecamatan Ketungau Hilir. <p style="text-align: justify;">Terkait hal tersebut, Selasa (3/6/2014) , digelar diskusi terarah di aula pertemuan kantor Bappeda Sintang dengan menghadirkan sejumlah stekholder yang terkait. <br /><br />Edy Susanto, ketua Kompas Borneo Sintang dalam presentasenya menjelaskan tentang potensi alam yang ada di hutan sekitar desa Tanjung Baung. Potens flora dan fauna yang ada di hutan desa tersebut menurutnya merupakan bagian alam yang dilindungi. <br /><br />Bahkan bila manusia mengambil dan memanfaatkanya terdapata ancaman hukuman yang menanti. Sebut saja keberadaan kayu ramin yang memang kini sudah mulai susah di dapatkan. Kemudian keberadaan mayas atau yang lebih trend di kenal sebagai orangutan. <br /><br />“Masyarakat di sana tidak mengetahui kalau orangutan itu dilindungi dan dilarang ditangkap. Saya khawatir kalau mereka menangkap itu lalu mereka digiring dan dipenjarakan,”ungkapnya.<br /><br />Selain kayu ramin, Edy yang telah melakukan pendampingan masyarakat di Tanjung Baung juga mengatakan bahwa ada spesien angrek hitam. Jenis anggrek hitam ini menurutnya adalah tanaman langka di dunia dan hanya hidup di sejumlah daerah tertentu saja. <br /><br />Jenis flora yang lain yang juga dilindungi dan hidup di hutan desa Tanjung Baung antara lain kenyalang atau burung enggang, beruang, kelempiau dan jensi hewan hutan lainnya.<br /> <br />“Sampai saat itu hutan di daerah itu masih boleh dibilang jarang diambah oleh manusia. Masyaraka masih mengaku takut untuk masuk ke hutan itu,”katanya lagi.<br /><br />Lebih lanjut Edy menjelaskan tentang adanya tantangan untuk pengembangan ekowisata Tanjung Baung. Menurutnya meskipun hutan di sekitar desa Tanjung Baung masih utuh, namun masyarakat telah kesusahan mendapatkan air minum. Untuk mendapatkan air minum, masyarakat harus pergi keluar desa. <br /><br />“Kalau lewat jalan air, mereka harus menggunakan sampan dan menyusuri sungai kapuas, kemudian berjalan lagi sekitar 100 meter. Bisa juga melalui jalan darat, dengan menggunakan motor, tapi sama juga masyarakat harus berjalan untuk bisa sampai ke tempat air bersih itu kira-kira 10 – 15 menit,”jelasnya.<br /><br />Perwakilan dinas kehutanan Wawan, mengatakan bahwa sebelum dijadikan sebagai daerah ekowisata, maka perlu ada payung hukum yang melindungi aktivitas masyarakat terkait denngan ekowisata tersebut. <br /><br />Peraturan tersebut bisa saja dituangkan dalam perdes, sebab bila menunggu perda maka prosesnya akan lebih lama lagi. <br /><br />“Jangan sampai masyarakat yang tinggal di sekitar hutan justru tidak mendapatkan manfaat secara ekonomi dari hal itu. Terkait dengan hasil hutan, yang dilarang adalah membawa keluar hutan tanpa dokumen,”tegasnya.<br /><br />Kepala Dinas Pariwisata Sintang H.Senen Maryono menyambut baik hasil penelitian yang dilakukan oleh kompas borneo dan WWF tentang potensi wisata di Tanjung Baung. Menurutnya di Tanjuang Baung memang terdapat hamparan hutan, danau,  flora dan fauna yang bisa dikembangkan. <br /><br />“Untuk itu harus dicek legalitas atau payung hukumnya. Wilayah itu kepemilikanya bagaimana dan harus melibatkan banyak pihak antara lain BPN, Pemdes, Pariwisata, PU, bagian hukum, camat, Bappeda dan pihak lain yang terkait. Kalau memang dikembangkan jadi daerag wisata berbasis masyarakat, maka harus ada partisipasi masyarakat dan ada pula keuntungan secara ekonomi bagi masyarakat,”jelasnya.<br /> <br />Hanya saja harus diakuinya bahwa pengembangan pariwisata Sintang masih terkendala dengan masalah infrastruktur dan akses jalan. Banyak potensi wsiata menarik di Sintang masih kategori sulit dikunjungi lantaran kondisi infrastruktur jalannya yang tidak mendukung.<br /> <br />Terkait pengembangan ekowisata di Sintang, H.Senen mengatakan bahwa upaya promosi telah gencar di lakukan. Namun menurutnya bisnis pariwsiata belum begitu banyak diminati oleh masyarakat, sebab hingga saat ini baru satu agen travel perjalanan wisata yang terdaftar secara resmi di Sintang.<br /><br />“Kita bisa memberikan rekomendasi kepada yang berminat menjadi agen perjalanan wisata untuk bisa mendapatkan ijin dari kantor layanan satu atap,”tegasnya. <strong>(ek/das)</strong></p>