Kondisi BBM Di Ring-II Perbatasan

oleh

Siapa sih yang akan peduli dengan kebutuhan BBM untuk warga di pedalaman. <p>Jika bukan warga itu sendiri yang berjuang memperolehnya. Jika berharap adanya keadilan pelayanan dari Pertamina, mungkin baru akan terwujud beberapa generasi mendatang.<br /><br />Sementara, perjalanan BBM eceran untuk warga pedalaman, harus melalui kisah yang berliku. Terkadang, BBM yang dibawa oleh para pengantri dari SPBU tidak sampai kepedalaman, karena terjaring razia diperjalanan. Begitu dikatakan Kepala Desa Sebetung Paluk Kecamatan Ketungau Hulu, Nyambang Basuki saat ditemui di Senaning hari Sabtu (06/04/2013) kemarin.<br /><br />Desa Sebetung Paluk, letaknya berada pada ring II kawasan perbatasan. Jika dilihat posisinya terhadap rencana border-gate Sungai Kelik Desa Jasa, letak Sebetung Paluk berada dibelakang Desa Jasa dan Desa Sungai Bugau. Kemudianjika dari lintas-batas tradisional di Nanga Bayan, Desa yang berpusat di Dusun Lubuk Pantak ini berbatasan langsung dengan Desa Nanga Bayan.<br /><br />Dari Ibukota Ketungau Hulu, Senaning, untuk menuju Lubuk Pantak harus melalui Pusat Desa Sungai Bugau di Dusun Rentong dan melalui Dusun Aput yang masuk wilayah Desa Sekaih. Jembatan yang ada pada ruas jalan ini, rata-rata eks jembatan Logging PT Batasan belasan tahun lalu. Ada yang masih dapat dilalui kendaraan roda 4, ada juga yang harus menyeberangi sungai dibawahnya.<br /><br />Masih menurut Nyambang, biaya kendaraan Ojek dari Senaning ke Lubuk Pantak, berkisar antara Rp. 150-200 Ribu. Dengan catatan, jika ada kerusakan diperjalanan harus ditanggung oleh pihak pengguna. Kondisi seperti inilah, yang membuat biaya hidup menjadi sangat tinggi.<br /><br />Ketika ditanya tentang hal yang sangat krusial saat ini, yakni tentang pasokan BBM. Menurut Kepala Desa yang membawahi Dusun Penyakah Etikal, Dusun Sepan Peturau dan Dusun Lubuk Pantak ini, dalam musim apapun BBM sulit didapat. Dimusim hujan BBM sulit masuk, jika musim kemarau BBM nya yang langka. Jadi, baik musim kemarau maupun musim hujan, BBM sulit didapat. Jikapun ada, harganya cukup mahal karena biaya angkutannya sangat tinggi, bebernya.<br /><br />Di Sebetung Paluk yang berpenduduk 199 KK ini, terdapat 68 buah generator-set (Genset) dan 2 buah mesin penggiling padi. Meskipun rata-rata hanya dihidupkan 4-5 jam per hari, kebutuhan BBM nya lumayan banyak. Kebutuhan BBM solar dan premium, semuanya dipasok oleh para pengecer bersepeda motor dari Balai Karangan Kebupaten Sanggau dengan harga Rp. 13 Ribu per Liter untuk Premium dan Rp. 14 Ribu per Liter untuk Solar.<br /><br />“Jika harga premium di kota Sintang mencapai Rp. 8 Ribu, pasti akan terjadi unjuk rasa. Kami di Sebetung Paluk dan sekitarnya, bertahun-tahun dicekik dengan harga belasan ribu masih biasa-biasa saja. Hanya saja dampak dari biaya tinggi tersebut, penghasilan warga dari kebun lada menjadi tidak ada artinya lagi,” pungkasnya. (das/Luc)</p>