Konflik Pro-Kontra sawit Di Riam Batu Mulai Muncul

oleh

Pro dan kontra kehadiran perkebunan kelapa sawit di Desa Riam Batu Kecamatan Tempunak mulai muncul. <p style="text-align: justify;">Konflik ini, ditandai dengan terjadinya penganiayaan oleh seorang oknum warga terhadap warga lain.<br /><br />Menurut aktivis dari Komisi Keadilan dan Perdamaian (KKP) Keuskupan Sintang, Maria Magdalena kepada kalimantan-news, Jumat (7/6/2013), kondisi ini jika dibiarkan akan sangat berbahaya. Apapun alasannya, tindakkan main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan dan akan memancing tindakan balasan dari kaum keluarga pihak korban, turur Maria.<br /><br />Dikisahkannya, bahwa kondisi di Desa Riam batu sejak hadirnya investor perkebunan kelapa sawit PT PSA, suasana ditempat itu menjadi tegang. Ketegangan ini, awalnya dipicu oleh persetujuan Kepala Desa yang akan menyerahkan lahan untuk perusahaan. Persetujuan Kepala Desa ini, merambah hingga wilayah Dusun Lebuk Lantang, dimana warga di Dusun Lebuk Lantang hingga sekarang tidak ada seorangpun yang bersedia menerima perkebunan sawit. Perlu diketahui, Desa Riam batu terdiri dari Dusun Lebuk Lantang dan Dusun Lanjau sebagai Pusat Desa.<br /><br />Aktivis kelahiran hulu sungai Tempunak ini menambahkan, secara defacto dipedalaman kedaulatan sesungguhnya berada di tangan Kepala Dusun. Sedangkan posisi Kepala Desa, lebih kepada yang bersifat administratif saja. Dengan begitu, jika perusahaan merasa sudah mendapat izin dari Kepala Desa, belum tentu disetujui oleh warga Dusun. Terebih jika Kepala Desa nya berasal dari Desa lain. Seharusnya, jika mendapat penolakan dari warga dan Kepala Dusun, hendaknya pihak Kepala Desa dan pihak perusahaan jangan coba-coba memaksakan kehendak, ucapnya.<br /><br />“Belum lama ini, masyarakat Lebuk Lantang menggelar pertemuan di Sintang dengan agenda utama membahas tentang konflik di Riam Batu. Hasil rapat ini, akan dibawa ke rapat KKP dibeberapa tingkatan”, pungkas Maria. <strong>(das/Luc) </strong></p>