Konsul Malaysia : Pontianak Indah Rupa Dari Kabar

oleh

Konsul Malaysia di Pontianak, Khairul Nazran Abd Rahman mengaku cukup terkejut dengan kondisi kota tersebut ketika hendak ditugaskan enam bulan lalu. <p style="text-align: justify;"><br />"Ternyata, Pontianak itu, indah rupa dari kabar," kata Khairul Nazran Abd Rahman saat ditemui di Konsulat Malaysia di Pontianak, di Hotel Mercure, Kamis.<br /><br />Ia sebelumnya hanya mendapat informasi yang kurang mengenakan tentang Pontianak. Kota Pontianak yang tengah merayakan hari jadi ke-240 itu, disebut sebagai daerah yang pembangunannya tertinggal dibanding daerah lain di Indonesia.<br /><br />Namun, sejak menginjakkan kaki di kota yang dilalui garis khatulistiwa itu, pandangannya berubah.<br /><br />"Pembangunan di Pontianak cukup pesat, dan kini menjadi salah satu pilihan destinasi bagi masyarakat Malaysia," kata dia.<br /><br />Ia melanjutkan, destinasi tersebut di antaranya di bidang investasi, perdagangan, barang dan jasa, kesehatan serta pendidikan.<br /><br />Ia sendiri menyarankan agar Pemerintah Kota Pontianak dapat bekerja sama dengan kota lain dalam mengembangkan wilayah tersebut.<br /><br />"Terutama dengan kota yang sudah maju seperti di Jepang atau Eropa, sistemnya seperti ‘sister city’," ujar Khairul Nazran Abd Rahman.<br /><br />Sedangkan dengan Kota Kuching, menurut dia, tidak terlalu banyak perbedaan sehingga Kota Pontianak akan kurang maksimal dalam mengembangkan kawasan kota.<br /><br />Di Malaysia, kata dia, dalam merencanakan pembangunan mekanismenya tidak jauh berbeda. "Mulai diusulkan dari bawah, kemudian diajukan oleh semacam camat, wali kota, atau bupati, lalu dibahas bersama Dewan untuk ditetapkan pula anggarannya," ujarnya.<br /><br />Namun mereka tetap mengacu kepada Akta Pembangunan tahun 1976. Ia menegaskan, setiap pembangunan tidak boleh bertentangan dengan akta tersebut yang diyakini tetap relevan dengan kebutuhan dan perkembangan di Malaysia.<br /><br />Pemerintah Malaysia juga konsisten dalam pengembangan kota yang tetap bercirikan peduli lingkungan. "Untuk program menghijaukan Kuala Lumpur misalnya, disiapkan anggaran 1,9 miliar ringgit Malaysia," kata Khairul Nazran Abd Rahman.<br /><br />Konsistensi terhadap aturan yang sudah berpuluh tahun itu membuat Malaysia mampu menata kota dan kawasannya dengan baik. Misalnya dalam membangun jalan, disisakan lahan dua meter di masing-masing bahu jalan yang tidak boleh digunakan selain untuk kepentingan transportasi.<br /><br />Pepohonan sebagai sarana penghijauan juga dilarang untuk ditebang ukuran keliling batang kurang dari 0,8 meter. <strong>(phs/Ant)</strong></p>