Krisis Pangan Melanda, Beberapa Desa Terancam Kelaparan

oleh

Beberapa desa yang di perhuluan Melawi saat ini mengalami krisis pangan. Hal tersebut terjadi karena kemarau yang terjadi berpekanjangan. <p style="text-align: justify;">Seperti yang terjaadi di Dusun saka II Desa Penyangkuang Kecamatan Sokan. Hal tersebut disampaikan Iif Usfayadi, Wakil Ketua DPRD Melawi. Ia mengatakan, masyarakat di Dusun Saka II saat ini sudah sangat mengaloami krisis pangan. Saat ini warga disana mengkonsumsi beras dicampur dengan gadung.<br /><br />“Di Saka II desa Penyangkuang Beras yang mereka masak dicampur dengan gadung agar banyak. Gadung ini merupakan umbi-umbian yang digunakan masyarakat pedalaman untuk mencampur karet dulunya. Namun saat krisis pangan melanda mereka, terpaksa gadung untuk menambah makanan mereja. Bahkan ada yang tidak makan dua sampai 3 hari,” katanya ditemui di DPRD Melawi, Kamis (1/10).<br /><br />Dengan munculnya persoalan itu, IIf berharap pemerintah bisa segera mengambil langkah. Seperti menyalurkan beras bantuan bencana ke Desa Penyangkuang  tersebut. “Pemerintah juga harus memantau desa-desa lainhya di pedalaman, tidak menutup kemungkinan juga mengalami hal yang sama,” ungkapnya.<br /><br />Krisis pangan yang terjadi di Desa Penyangkuang tersebut merupakan dampak dari kemarau yang berkepanjangan di Melawi ini. Sehingga akses transportasi utama yakni jalur sungai, tidak bisa dilalui. Bahkan untuk bersawah warga disana kesulitan karena kekurangan air. “Ini harus segera diatasi,” ucapnya.<br /><br />Sementara di Kecamatan tanah Pinoh Barat juga mengalami hal yang hamper serupa. Seperti yang disampaikan Nur Ilham, Anggota DPRD Melawi. Di Desa Keluas Hulu dan Mahikam, harga beras disana sudah mencapai Rp. 20 ribu per kilogram.<br /><br />“Beras yang harganya Rp. 20 ribu per kilogram itu bukan beras mahal, itu beras yang sangat murah bila di Nanga Pinoh. Hal itu karena akases untuk mencapai ke Desa Mahikam dan Desa Keluas tidak bisa dilalui karena kemarau yang membuat sungai kering,” katanya.<br /><br />Bahkan, lanjut Ilham, beras yang dijual ke dua desa tersebut, belum sampai ke desa, baru sampai di sungai saja sudah habis dibeli warga. “Beras yang baru datang untuk dijual ke warga, tidak sampai kampung. Di pinggir sungai warga sudah menunggu untuk membelinya,” ungkapnya.<br /><br />Ilham mengatakan, kondisi yang terjadi saat ini selain karena musim kemarau berkepanjangan terjadi, juga karena tidak adanya akses jalan menuju ke desa tersebut. <br /><br />“Selama ini masyarakat hanya menggunakan jalur sungai saja. Jika kemarau tiba, maka harga sembako disana akan sangat mahal,” ucapnya.<br /><br />Untuk itu, Ilham berharap pemerintah bisa memperhatikan desa-desa yang terancam krisis pangan tersebut, dengan menyuplai makanan berpa bantuan social. “Kita haraokan pemerintah bisa segera memperhatikannya,” katanya.<br /><br />Ilham juga berharap, kedepannya pemerintah bisa membangun akases jalan jalur darat, agar roda perekonomian masyarakat disana menjadi lebih baik. <br /><br />“Kalau jalur sungai ini tergantung musim. Kalau musim kemarau akan terhambat, sementara jalur arat tidak ada,” pungkasnya. (KN)</p>