Laba Indocement 2011 Naik Menjadi Rp6,331 Miliar

oleh
oleh

Pendapatan bersih PT Indocement Tunggal Parkarsa Tbk naik sekitar 18,1 persen dari Rp5,360 miliar menjadi sekitar Rp6,331 miliar pada 2011. <p style="text-align: justify;">"Kenaikan keuntungan bersih Perseroan sebesar 18,1 persen tersebut didukung oleh naiknya penjualan domestik dan kenaikan harga domestik sebesar tiga persen sejak Oktober 2010," kata Corporate Secretary PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, Sahat Panggabean, di Kotabaru, Sabtu.<br /><br />Salah satu upaya yang telah dilakukan manejemen untuk mendongkrak pendapatan bersih Perseroan tersebut, lebih memperhatikan pada biaya energi yang besarnya mencapai kisaran 50 persen dari beban pokok pendapatan.<br /><br />Indocement harus menyerap kenaikan biaya energi terutama, kenaikan harga batubara dan bahan bakar minyak sejak kuartal terakhir 2010.<br /><br />Meskipun sebagian kebutuhan batubara tahun ini telah diikat dengan kontrak ‘fixed price’ pada tahun sebelumnya, tambahnya.<br /><br />Mengimbangi kenaikan biaya energi tersebut, perseroan telah melakukan banyak usaha efesiensi biaya dan fokus untuk mengoptimalkan pembelian dan operasional ‘supplay coin’.<br /><br />Dengan cara tersebut, beban pokok pendapatan per ton hanya naik sebesar 16 persen, meskipun beban pokok pendapatan Perseroan dalam jumlah absolut meningkat sebesar 28,7 persen, terutama disebabkan oleh tingginya volume produksi.<br /><br />Selain melakukan efesiensi biaya energi dan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki, penguatan nilai rupian terhadap dollar tahun 2011 telah memberikan dampak positif sebesar 60 persen dari pembelian Perseroan adalah dalam bentuk dollar.<br /><br />Panggabean menambahkan, marjin laba kotor turun menjadi 47,4 persen dari 51,7 persen, akan tetapi laba kotor dalam jumlah absolut naik 8,2 persen menjadi sekitar Rp3 miliar dan 2010 sebesar Rp2,773 miliar.<br /><br />Ia melaporkan, beban usaha naik sebesar 23,6 persen menjadi Rp892,6 miliar sedangkan tahun lalu sebesar Rp722,1 miliar.<br /><br />Hal itu sisebabkan naiknya biaya pengangkutan mengikuti kenaikan volume penjualan dan meningkatnya tarif distribusi untuk transportasi darat dan laut akibat kenaikan harga BBM.<br /><br />Marjin laba usaha menurun dari 38,3 persen menjadi 33,3 persen, namun dalam jumlah absolut Perseroan tetap berhasil meningkatkan laba usaha sebesar Rp2,8 persen dari sekitar Rp2 miliar menjadi sekitar Rp2,1 miliar.<br /><br />"EBITDA juga meningkat sebesar 2,5 persen dari Rp2,354 miliar menjadi Rp2,414 miliar," ujarnya.<br /><br />Pada hasil akhir, laba periode berjalan meningkat sebesar 5,4 persen dari Rp1,641 miliar menjadi Rp1,729 miliar.<strong> (phs/Ant)</strong></p>