Larang Ekspor Rotan "Bunuh" Petani Dan Pengumpul

oleh

Koordinator Asosiasi Pengusaha Rotan Indonesia (APRI) Wilayah Kalimantan Rudyzar menyatakan, Peraturan Menteri Perdagangan No. 35/M-DAG/PER/11/2011 tentang Larangan ekspor rotan, telah "membunuh" petani dan pengumpul rotan nusantara. <p style="text-align: justify;">"Kami menginginkan pemerintah segera merevisi Permendag terkait larangan ekspor rotan supaya rotan alam hidup kembali, bukan rotan imitasi, coba kita menoleh ke belakang rotan imitasi telah mengisi restoran, bandara, perumahan dan kantor pemerintahan," kata Rudyzar di Pontianak, Senin.<br /><br />Dalam kesempatan itu, Rudyzar menuding, ada pihak yang "bermain" terkait diberlakukannya kebijakan pemerintah melalui Peraturan Menteri Perdagangan No. 35/M-DAG/PER/11/2011 tentang Larangan ekspor rotan.<br /><br />"Bisa saja yang bermain pelaku industri rotan sintetis yang dengan gencar melakukan kampanye anti rotan alam dan budidaya guna membunuh petani rotan Indonesia," katanya.<br /><br />Rudyzar menambahkan, dengan ditunjuknya Sucofindo untuk memberikan izin ekspor rotan sangat berdampak pada industri rotan dalam negeri karena ada pembatasan yang kami nilai sangat menguntungkan industri rotan sintetis sehingga kebijakan itu tidak membawa kemakmuran pada rakyat melainkan menyengsarakan.<br /><br />Sementara itu, menurut dia, untuk ekspor rotan sintetis malah tidak dikenakan pajak dan verifikasi oleh Sucofindo seperti yang diberlakukan pada ekspor rotan sehingga sangat menguntungkan industri rotan sintetis, sekaligus membunuh pelaku industri dan petani rotan alam atau budidaya.<br /><br />Koordinator APRI Wilayah Kalimantan kembali mendesak pemerintah kembali membuka "keran" ekspor rotan agar kembali menggairahkan petani rotan dalam negeri.<br /><br />Ada beberapa alasan kenapa ekspor rotan tetap terus dibuka, diantaranya pemakaian rotan oleh industri di Pulau Jawa atau dalam negeri hanya berkisar 15-20 persen atau hanya tujuh hingga delapan jenis rotan saja yang dipergunakan oleh industri lokal dari 300 jenis rotan yang ada di Indonesia, katanya.<br /><br />"Alangkah bijaknya kalau pemerintah tetap membuka keran ekspor rotan sehingga rotan yang tidak bisa dimanfaatkan oleh industri dalam negeri bisa di ekspor karena memang banyak permintaan dari luar negeri," ujarnya.<br /><br />Akibatnya, jutaan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya dari rotan kini terganggu kehidupannya, seperti di Pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara Barat, katanya.<br /><br />Rudyzar juga menyayangkan, terkait aturan yang mewajibkan verifikasi secara berulang-ulang mulai dari tempat pengangkutan, kemudian di tempat tujuan industri pengolahan bahan baku, kemudian diverifikasi di pelabuhan dengan alasan pencegahan penyeludupan hanya diberlakukan pada komoditas rotan sehingga terkesan diskriminasi.<br /><br />Menurut dia, hasil komoditas rotan Indonesia didominasi dari Pulau Kalimantan yang sebagian besarnya diperoleh dari alam, seperti jenis rotan jelayan (Calamus ornatus Blume), semambu (Calamus scipionum Loureiro), rotan Cl (Daemonorops angustifola Griff) dan lain-lain.<br /><br />Masyarakat pedalaman juga gemar menanam rotan bersamaan dengan aktivitas berladang mereka sehingga orang luar sulit mengenal rotan budidaya (kebun) atau hutan.<br /><br />Adapun jenis rotan hasil budidaya yang ada di Kalimantan, yakni rotan sega (Calamus caesius Blume), jahab/irit (Calamus trachycoleus Beccari), pulut merah (Daenomorops crinita Miq Bl) manau (Calamus manan Miq), dan pulut putih (Calamus penicillatus Roxb).<br /><br />Ada satu jenis rotan yang dibudidaya itu yang paling istimewa yakni jenis pulut merah dengan warna kulit merah kecoklat-coklatan dan hanya tumbuh di kawasan sungai, kata Rudyzar. <strong>(phs/Ant)</strong></p>