Lebih Banyak Ceremonial, Peran LH Jaga Lingkungan Masih Minim

oleh

Hari lingkungan hidup yang selalu diperingati setiap tahun tak ubahnya hanya kegiatan ceremonial belaka. Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan hari lingkungan hidup pada tahun ini hanya diwarnai dengan berbagai kegiatan yang sifatnya kampanye. <p style="text-align: justify;">Sebut saja lomba mewarnai, pemilihan duta lingkungan hidup dan berbagai kegiatan lain yang justru tidak berdampak signifikant bagi upaya penyelamatan lingkungan. Terbukti, sejauh ini banyak sekali aktivitas perusahaan dan masyarakat yang mengarah pada perusakan lingkungan. <br /><br />Salah satunya seperti yang dilakukan oleh PT.Alam Rezeki Permai (ARP) yang mengeruk kandungan pasir zircon di sungai kapuas tepatnya di kawasan dermaga Sungai Ringin Sintang. Celakanya lagi, operasional perusahaan yang menggunakan kapal canggih rakitan tenaga kerja asing asal RRC ini diakui telah mendapatkan izin rekomendasi dari Distamben Sintang. Izin rekomendasi ini diakui pula oleh kepala Distamben Syamsul Hadi. <br /><br />Namun anehnya izin rekomendasi yang dikeluarkan Distamben ini tak dilengkapi dengan izin AMDAL dari Badan Lingkungan Hidup, sebagai garda terdepan penyelamat lingkungan. <br />“Sampai saat ini, kami belum ada menerima pengajuan izin Amdal dari perusahaan yang dimaksud,”tegas Kaban LH H.Murjani saat ditemui di kantornya Jln.DR Wahidin, Selasa (29/05/2012).<br /><br />Lebih lanjut, mantan akademisi Untan ini mengatakan bahwa keharusan pihak perusahaan untuk mengantongi izin Amdal mengacu pada ketentuan yang diatur dalam UU No. 32 tahun 2009 tentang lingkungan hidup.<br /> <br />“Setiap pelaku usaha yang akan memberikan poengaruh terhadap apa yang ada di sekitarnya maka harus mengantongi izin lingkungan. Salah satu bentuknya seperti Amdal,”ujarnya. <br />Belum lagi tentang aktivitas perusahaan sawit yang selalu bermasalah dengan masyarakat, sebab tak sedikit dari aktivitas perusahaan tersebut yang merugikan masyarakat. <br /><br />Seperti yang pernah terjadi di daerah Binjai. Akibat aktivitas pabrik pengolah buah kelapa sawit, masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih. Selain itu sungai yang menjadi sumber kebutuhan air masyarakat juga telah tercemar. Tidak hanya itu, akibat limbah perusahaan yang dibuang begitu saja ke sungai, sejumlah habitat ikan di sungai sekitar pabrik juga banyak yang musnah.<br /><br />“Banyak kegiatan yang sudah kita lakukan,misalnya pemberdayaan masyarakat, sosialisasi dan juga pelatihan. Semuanya tentu tujuan kita untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan,”kilahnya. <strong>(ast)</strong></p>