Legenda keroncong Indonesia Waljinah mengemukakan kekecewaanya atas kurangnya apresiasi atas musik keroncong di tanah air padahal negara-negara lain, lagu keroncong tumbuh subur. <p style="text-align: justify;">“Keroncong kan lagu sendiri bukan dari mana-mana. Lagu kita ingin diambil. Singapura, Jepang, Belanda dan Suriname kepingin lagu ku. Kenapa lagu kita dibiarin terbelengkalai sementara lagu orang lain malah dinyanyikan,” kata Waljinah, saat ditemui di rumahnya dengan suara lirih, Senin (24/2/2014).<br /><br />Waljinah merupakan penyanyi spesialis keroncong dan tidak heran jika perempuan kelahiran Solo 7 November 1945 itu dijuluki ‘Ratu Keroncong”. Ketika masih kanak-kanak, Waljinah juara II Bintang RRI pada 1958. Nama Waljinah semakin meroket berkat lagu Walang Kekek.<br /><br />Bersama kelompok Orkes Keroncong Bintang Surakarta, Waljinah kerap tampil di sejumlah negara. Setidaknya ada 10 negara yang kerap mengundangnya. Dan rata-rata mendapat sambutan hangat. Waljinah khawatir jika musik keroncong diabaikan, justru akan dimanfaatkan oleh negara lain dengan mengklaim sebagai musik yang bukan milik Indonesia. Padahal keroncong merupakan seni dan budaya yang dimiliki Indonesia.<br /><br />Berbagai cara terus dilakukan agar keroncong tetap lestari salah satunya dengan berpartisipasi pada acara pertunjukan wayang dan ketoprak. Waljinah berharap diusianya yang sudah tidak muda lagi, tetap berkarya terlebih sebanyak 10 negara tengah menanti kehadirannya.<br /><br />Sebelumnya selama sebulan, Waljinah harus dirawat di rumah sakit. Dan setelah dinyatakan kondisinya membaik, Waljinah menginginkan dirawat di rumah bersama keluarga. <strong><em>(Sgd/Hani Sutomo/HF/RRI/das)</em></strong></p>

















